Direktur Pengembangan Bisnis Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Imam Subowo menginginkan Bulog menjadi pemain tunggal penyalur beras melalui program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
“Kami siap menjadi satu-satunya penyalur beras di program BPNT,” kata Imam di Jakarta, Kamis (12/12).
Jika disetujui pemerintah, Bulog akan mampu menyalurkan beras melalui program tersebut sebanyak 1,56 juta ton. Angka tersebut berdasarkan jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang mencapai 15,6 juta orang dengan masing-masing orang mendapatkan 10 kilogram (kg) beras.
Apabila hal tersebut tidak memungkinkan, jalan satu-satunya meningkatkan sisi komersial Bulog menjadi 50 persen. Imam menargetkan, pada 2020 Bulog bisa mengeluarkan beras melalui mekanisme komersial sebesar 650 ribu ton. “Kami siap menuju persaingan yang lebih berat ke depan,” kata dia.
Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron mengatakan, Bulog harus diberikan kewenangan sepenuhnya terkait BPNT untuk meningkatkan penyaluran beras. Jika tidak, dia yakin Bulog akan terus merugi.
“Kalau rugi, serapan gabah masyarakat atau petani akan kecil. Stok sudah pasti tidak akan lancar keluar,” kata Khaeron.
Menurut dia, penyaluran beras melalui program BPNT jangan diserahkan ke institusi lain atau pihak swasta. “Sudahlah, pindahkan BPNT ke Bulog. Penyaluran akan lancar, serapan gabah besar, dan stok nasional pasti terjamin,” kata Khaeron.
Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa tidak setuju apabila Bulog menjadi pemain tunggal penyalur beras di BPNT. “Mekanisme yang sekarang ini harus terus dijalankan,” kata Andreas kepada HARIAN NASIONAL.
Dengan demikian, kata Andreas, perusahaan pelat merah tersebut bisa terus meningkatkan profesionalitas. Menurut dia, Bulog harus bisa mereformasi dan memperbaiki mutu beras untuk menarik kembali kepercayaan masyarakat.
“Saya kira persoalan Bulog sangat bisa diatasi. Masalah di Bulog bukan hal sulit diselesaikan,” kata dia.
sumber: harnas

