hermankhaeron.info – Proyek reklamasi di kawasan Pelabuhan Cirebon untuk galangan kapal milik PT. Gamatara Trans Ocean Shipyar diduga telah melanggar sejumlah izin yang harus ditempuh.

Luas areal yang direklamasi Gamatara Trans Ocean Shipyar seluas 4 ha dengan nilai investasi proyek sekitar Rp100 miliar yang telah dimulai sejak 2013 lalu dan ditargetkan bisa mulai beroperasi tahun depan.

Ketika Wakil Ketua Komisi IV DPR, Herman Khaeron dan Dirjen Peneggakan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rasio Ridho Sani ke lokasi proyek, terungkap sejumlah pelanggaran perizinan yang dilakukan Gamatara yang salah satunya adalah izin lingkungan hidup, proyek tidak memiliki  detail engineering desain (DED) dan luas areal yang direklamasi melebihi izin.

“Pendekatan kepada masyarakat sekitar juga tidak dilakukan Gamatara dan izin belum rampung sudah dimulai reklamasi,” kata Herman Khaeron, Jumat (27/5/2016).

Herman atau yang lebih akrab disapa Hero ini meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melakukan penyelidikan terhadap proyek reklamasi Gamatara di Pelabuhan Cirebon.

Direktur Gamatara Trans Ocean Shipyar, Muarif ketika dikonfirmasi mengungkapkan proyek reklamasi yang dilakukan perusahaannya telah mengantongi sejumlah izin yang diantaranya adalah izin reklamasi dan terminal untuk keperluan sendiri (TUKS) dari Kementerian Perhubungan, UKL/UPL dari Kantor LH Kota Cirebon dan izin lingkungan.

“Pelabuhan Cirebon diuntungkan dengan adanya proyek ini, kalau menunggu harus tuntas semua izin tentu butuh waktu lama,” ujarnya. (k3)

sumber : bisnis.com

Herman Khaeron: Sarjana Harus Terlibat Kembangkan Pertanian

hermankhaeron.info – Petani Tanah Air saat ini masih berperan sebagai mesin pencetak hasil pertanian saja. Maka generasi muda, terutama yang menempuh pendidikan di bidang pertanian dan ilmu sosial terkait, harus mengembangkan sektor pertanian lebih dari sekadar produksi.

‘’Sarjana sosial ekonomi, pertanian, harus mau kembali atau terlibat di sektor pertanian secara langsung. Tantangannya, mengembangkan aspek-aspek penting selain produksi, seperti distribusi, pemasaran, dan lain-lain,’’ kata Ir Herman Khaeron, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat. Herman, berbicara dalam Seminar Nasional Prospek Agribisnis di Era Masyarakat Ekonomi Asean yang diselenggarakan Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian) di Universitas Padjajaran Pada (23/5/2016).

Seminar ini, antara lain bertujuan mempersiapkan agribisnis dan individu yang terkait didalamnya untuk menghadapi MEA. Herman mengungkapkan permasalahan-permasalahan seperti benih yang masih kurang, baik jagung maupun padi. Kemudian, juga terkait pengembangan agribisnis lokal yang berjalan lambat akibat terlalu fokus pada off farm yang memiliki nilai tambah terbesar sehingga keuntungan menjadi tidak optimal.

Seminar ini, dihadiri mahasiswa sosial ekonomi pertanian se-Indonesia, mahasiswa umum, akademisi, pemerintah dan masyarakat uumum. Selain Hero—sapaan Herman Khaeron—pembicara lain adalah Dr Ir Teddy Rachmat Muliand, MM (Ketua Kelembagaan dan Ketenagaan Pendidikan), Ir H Didi Apriadi,M.Ak (Staf Ahli Menteri Perindustrian) dan Wirawan Winarto, Vice President Operations PT Lion Super Indo.

sumber : fraksidemokrat.org

Oleh: Muhammad Razi Rahman

Kenaikan harga sejumlah bahan pokok menjelang dan saat puasa hingga masa lebaran merupakan siklus yang telah lama dikenali, sehingga diharapkan pemerintah serta pihak terkait lainnya juga dapat mengantisipasinya dengan baik.

Siklus itu juga membuat Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron mengingatkan agar kenaikan harga pangan saat Ramadhan dan Idul Fitri 1437 Hijriah tidak terlalu tinggi atau melebihi 20 persen agar tidak membebani masyarakat.

Herman Khaeron di Jakarta, Rabu (18/5) menyebutkan, pihaknya menginginkan komoditas beras sebagai bahan pangan pokok harus tersedia dengan cukup dan mudah diperoleh.

Selain beras, beragam komoditas lainnya seperti daging sapi, ikan, dan ayam, yang juga diperkirakan akan mengalami kenaikan harga, juga perlu diperhatikan agar pasokannya disesuaikan dengan tingkat permintaan warga.

Untuk itu, berbagai pihak terkait juga perlu mengamankan pola distribusi sehingga benar-benar dapat tersalurkan ke berbagai daerah dengan baik dan tepat.

Pengamat sektor pertanian Bustanul Arifin mengatakan setiap daerah perlu mengawasi kondisi stok pangan dan melakukan sinergi yang baik dengan pemerintah pusat dalam rangka menstabilkan harga pangan.

Apalagi, ia mengingatkan bahwa setiap daerah saat ini juga memiliki TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) yang bisa dimanfaatkan serta dioptimalkan dengan baik guna mengawasi stabilitasi pangan.

Tingkat inflasi pada saat ini, ujar dia, masih berada sesuai dengan target yang direncanakan, tetapi kalau tingkat konsumsi pangan dapat keadaan volatil (naik-turun) maka hal tersebut juga harus selalu dijaga.

Untuk itu, juga diperlukan sinergi yang baik dengan kebijakan fiskal dan moneter yang berada di bawah koordinasi Kemenko Perekonomian dan Kementerian Keuangan.

Sedangkan tingkat kenaikan harga sejumlah bahan pangan itu sendiri pada saat bulan puasa 2016 tidak akan melonjak pesat bila pemerintah mengantisipasinya dengan tepat.

Menurut Bustanul, diperkirakan kalau ada kenaikan harga tidak akan melebihi 10 persen asalkan tidak ada spekulasi dan ekspektasi berlebihan sehingga banyak yang menyimpan beras sehingga bisa terjadi akumulasi pergerakan harga.

Dia mengakui, saat ini memang ada pergerakan harga tetapi hal tersebut dinilai karena ada gangguan distribusi terkait untuk memenuhi target daerahnya masing-masing.

Bustanul menyebutkan, rentang waktu yang harus diwaspadai adalah pada bulan November-Desember 2016, yang jika manajemen stok tidak berjalan dan kurang diantisipasi dengan baik, maka dikhawatirkan akan ada kenaikan harga.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Publik dan Hubungan Antarlembaga Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Rachmat Hidayat di Jakarta, Rabu (11/5), mengatakan stabilitas harga dibutuhkan guna menjaga kestabilan harga di tingkat konsumen dan nilai inflasi.

Rachmat menjelaskan, ada tiga faktor yang mempengaruhi harga produk pangan olahan, yakni ketersediaan bahan baku, harga yang kompetitif dan kualitas yang baik.

Sementara terkait kebijakan pangan, termasuk urusan impor, pemerintah diminta untuk melakukan telaah menyeluruh dan komprehensif.

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Fadli Zon pada acara pelantikan DPN HKNTI 2015-2020 juga menyatakan siap melakukan pengawasan terhadap kebijakan impor yang dilakukan pemerintah di sektor pangan.

Menurut Fadli yang juga Wakil Ketua DPR RI, langkah awal yang sudah ditempuh HKTI pada saat ini adalah melakukan dialog dengan pihak Kementerian Pertanian (Kementan) terkait sejumlah langkah strategis yang dilakukan HKTI guna mendukung program pemerintah.

Seribu toko tani Pemerintah sendiri juga menyatakan akan memperkuat pasokan dan distribusi pangan nasional untuk menjaga stabilitas harga sebagai persiapan menghadapi Ramadhan pada Juni 2016.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta, Senin (25/4) mengatakan persiapan itu dilakukan karena kondisi cuaca yang sulit diprediksi berpotensi menggeser waktu panen dan menurunkan produksi beras.

“Kami ingin memperbaiki dari dua sisi sekaligus, produksi panen dan stok cadangan. Keduanya saling mempengaruhi, kalau kualitas panen bagus, stok bisa disimpan lebih lama,” kata Darmin.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman juga mengemukakan, pihaknya berencana akan mengembangkan 1.000 toko tani Indonesia untuk menstabilkan harga komoditas pangan.

Toko yang bekerja sama dengan kelompok tani tersebut dinilai akan memotong rantai suplai, sehingga pemerintah berharap dapat menekan harga komoditas seperti bawang merah, cabai dan beras yang dapat melonjak tinggi di pasaran terutama menjelang hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri.

Sementara itu, Perum Bulog juga telah menggandeng masyarakat menjadi bagian dalam jaringan distribusi bahan pangan melalui program Rumah Pangan Kita (RPK) sebagai upaya menstabilkan harga pangan.

Dirut Perum Bulog Djarot Kusumayakti di sela peluncuran program Rumah Pangan Kita di Jakarta, Senin (9/5), menyatakan, RPK merupakan outlet pemasaran bahan pangan dan produk industri pangan strategis yang dibentuk untuk memotong rantai distribusi sehingga makin mendekatkan produsen dan konsumen.

Melalui RPK, lanjut Djarot, masyarakat diajak untuk menjadi mitra usaha Bulog dalam jaringan distribusi bahan pangan strategis seperti beras, gula, minyak goreng, terigu, daging bahkan nantinya juga cabai dan bawang merah.

Tidak hanya di perkotaan, pengawasan juga mesti dilakukan di berbagai lokasi yang terkenal rawan serta banyak dihuni oleh keluarga yang kurang sejahtera, seperti kawasan pesisir.

Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Abdul Halim mengungkapkan, sekitar 10.666 desa-desa pesisir yang menjadi ruang hidup masyarakat nelayan tradisional, pembudidaya ikan, petambak garam, perempuan nelayan, dan pelestari ekosistem pesisir merupakan wilayah yang rentan konflik agraria.

Menurut Abdul Halim, konflik agraria tersebut rata-rata disebabkan oleh kebijakan pembangunan yang bersifat sektoral serta tidak komprehensif.

Ia mencontohkan, kebijakan sektoral yang berpotensi mengakibatkan konflik tersebut antara lain tambang pasir besi dan pasir laut, serta peruntukkan privat baik untuk wisata bahari berbayar maupun reklamasi pantai.

Voucher pangan Salah satu solusi yang diwacanakan pemerintah jelang bulan puasa adalah terkait dengan mewacanakan pengubahan beras miskin (raskin) dengan sistem voucher pangan yang dinilai bakal memberikan gizi yang lebih seimbang bagi masyarakat miskin di Tanah Air.

Voucher Pangan

Deputi III Kantor Staf Kepresidenan Denni Puspa Purbasari mengemukakan, konsep voucher pangan tersebut rencananya diberikan dengan nilai tertentu setiap bulan, dan rencananya bisa dibeli untuk pangan apa saja, tetapi secara eksplisit disebutkan beras dan telur.

Ia memastikan akan ada proses registrasi yang layak dan diharapkan pula akan ada banyak pedagang yang berpartisipasi sebagai tempat untuk me-redeem (menukar) voucher yang dimiliki rakyat miskin tersebut.

Dengan voucher pangan tersebut, maka diharapkan pula bakal menyeimbangkan gizi warga miskin sehingga tidak hanya mengasup karbohidrat, tetapi juga protein seperti telur.

Dengan adanya asupan yang lebih cukup, maka diharapkan akan ada pengembalian investasi jangka panjang, yaitu generasi masa mendatang Indonesia yang lebih cerdas.

Dia juga menuturkan, payung hukumnya sedang disiapkan dan diharapkan bakal ada peraturan presiden (Perpres) untuk ini, serta kebijakan ini bakal dipimpin Menko Perekonomian serta dibantu menko-menko lainnya sehingga ini akan menjadi pekerjaan bersama, bukan hanya satu-dua kementerian.

Bila wacana ini jadi direalisasikan, menurut dia, maka diperkirakan rentang waktunya setelah payung hukumnya keluar maka akan dimulai di tingkat kota dan baru setelah itu ke tingkat daerah hingga kabupaten.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron menilai, wacana voucher pangan tidak bisa menjawab stabilisasi harga apalagi sampai menggantikan peran Badan Urusan Logistik (Bulog) yang selama ini berperan menyebarkan raskin.

Selama ini, Herman mengingatkan bahwa raskin telah ada harga yang ditetapkan agar terjangkau oleh masyarakat bawah, bila menggunakan voucher untuk ditukar ke pedagang makan yang akan berlaku adalah dengan mekanisme harga pasar.

Dalam UU Pangan, aspek ketahanan pangan diserahkan kepada Perum Bulog, meski belum juga diketahui apakah ke depannya akan berupa lembaga pangan yang lebih strategis, di mana bulog bereinkarnasi atau menjadi subordinasi lembaga tersebut, itu diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah.

Apalagi, politisi Partai Demokrat itu juga menyangsikan sistem voucher pangan itu juga bisa menjawab permasalahan pola distribusi, padahal sentra produksi surplus hanya di enam provinsi.

Herman menegaskan bahwa merupakan tanggung jawab negara sehingga rakyat bisa mendapatkan pangan yang terjangkau baik harga maupun ketersediaannya.

Bila voucher pangan telah direalisasikan dan ada gangguan dalam pelaksanaannya, maka hal itu dinilai bisa mengulang kejadian pada akhir 2014 atau awal 2015, ketika raskin akan diganti dengan e-money, namun karena tidak ada kejelasan maka harga beras naik tinggi.

Dengan adanya pengawasan yang baik dan dilakukan dengan sungguh-sungguh serta dengan mekanisme yang jelas, maka sebenarnya stabilisasi sejumlah harga pangan juga dapat berjalan dengan baik tanpa adanya “inovasi” program tambahan baru lainnya. (Ant.

sumber : neraca.co.id

Herman Khaeron Minta Jokowi Prioritaskan Masyarakat Miskin

hermankhaeron.info – Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta dapat memastikan prioritas lebih penting saat ini untuk masyarakat miskin, apakah tetap menggunakan beras miskin (raskin) atau voucher pangan.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron mengatakan, jika voucher pangan diberlakukan belum tentu menjadi kepentingan utama masyarakat kurang mampu. Mengingat, sejak raskin diberlakukan, raskin telah menjadi salah satu komponen dalam kestabilan pangan Indonesia.

“Presiden harus berani menentukan. Saya berikan bahan pertimbangan kalau raskin saat ini adalah bagian dari integral sistem ketahanan pangan nasional,” katanya, Kamis (19/5).

Politisi Partai Demokrat itu menambahkan, saat ini stok nasional raskin mencapai 2,7 juta ton. Saat ini ibarat outlet bagi masyarakat miskin.

“Kalau tidak ada outletnya mereka akan menyimpan di mana dan kalau berasnya rusak bagaimana. Masyarakat mau makan apa, siapa yang akan mau tanggung jawab,” tegas Herman.

sumber : suararakyat

hermankhaeron.info – Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta dapat memastikan prioritas lebih penting saat ini untuk masyarakat miskin, apakah tetap menggunakan beras miskin (raskin) atau voucher pangan.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron mengatakan, jika voucher pangan diberlakukan belum tentu menjadi kepentingan utama masyarakat kurang mampu. Mengingat, sejak raskin diberlakukan, raskin telah menjadi salah satu komponen dalam kestabilan pangan Indonesia.

“Presiden harus berani menentukan. Saya berikan bahan pertimbangan kalau raskin saat ini adalah bagian dari integral sistem ketahanan pangan nasional,” katanya, Kamis (19/5).

Politisi Partai Demokrat itu menambahkan, saat ini stok nasional raskin mencapai 2,7 juta ton. Saat ini ibarat outlet bagi masyarakat miskin.

“Kalau tidak ada outletnya mereka akan menyimpan di mana dan kalau berasnya rusak bagaimana. Masyarakat mau makan apa, siapa yang akan mau tanggung jawab,” tegas Herman.

sumber : rmol

hermankhaeron.info – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, ‎Herman Khaeron mewanti-wanti pemerintah soal ketersediaan bahan pangan jelang Ramadan. Politikus asal Partai Demokrat ini, meminta pemerintah melakukan dua hal terkait pasokan pangan.

Pertama yakni peningkatan produksi yang harus disiapkan sebaik mungkin oleh pemerintah.

“Jadi peningkatan produksi untuk semua produksi komoditas yang sangat terkait dengan persiapan jelang Ramadhan dan Idul Fitri. Harus disiapkan sebaik mungkin,” kata Herman, Jakarta, Rabu (18/5/2016).

Kedua adalah distribusi. Menurut dia, distribusi tak kalah penting tentang bagaimana menyampaikan dari petani kepada pasar untuk kemudian disampaikan ke masyarakat.

Kemudian kata pria asal Kuningan, Jawa Barat itu adalah pengaturan bahan pokok di H minus 7 dan H plus 7. Karena biasanya di rentang ini semuanya dalam kondisi off alias tidak ada kegiatan.

“Distribusi berhenti, para pelaku usaha berhenti. Ini sedang dipikirkan bagaimana pola distribusinya. Apakah Bulog diberi kewenangan penuh untuk tetap menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pangan sehingga baik dari sisi fisik pangan maupun harga dapat dijangkau masy‎arakat,”pungkasnya.

sumber : sindo

hermankhaeron.info – Pemerintah melalui Komisi IV DPR RI menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) berupa traktor tangan kepada petani yang berada di Kota Cirebon, Jawa Barat.

“Ini merupakan upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan hasil produksi pertanian,” kata Wakil Ketua Komisi IV Herman Khaeron saat menyerahkan bantuan itu di Cirebon, Selasa.

Ia menuturkan biaya pertanian khususnya padi cukup besar. Untuk itu, pemerintah berupaya mendukung para petani agar bisa sejahtera dengan meminimalkan pengeluaran biaya tanam, salah satunya dengan memberikan bantuan berupa alsintan.

“Alsintan ini merupakan modernisasi alat pertanian. Di perkotaan sangat dibutuhkan alat seperti ini karena sangat sulit mencari tenaga pertanian,” tuturnya.

Ia menambahkan pemerintah memberikan bantuan tersebut secara gratis kepada sejumlah kelompok tani.

“Bukan hanya di Cirebon, akan tetapi di seluruh Indonesia, meskipun jumlahnya belum banyak,” katanya.

Ia berharap agar kelompok tani penerima bantuan memanfaatkan secara maksimal traktor tangan tersebut.

sumber : republika

hermankhaeron.info – Dalam kunjungan kerja Komisi IV DPR ke Kabupaten Sorong, Papua Barat, beberapa waktu lalu, terungkap adanya permasalahan irigasi di lahan eks transmigrasi di daerah tersebut. Hal itu dipaparkan Wakil Bupati Sorong Suka Harjono kepada tim kerja yang diketuai Herman Khaeron yang juga merupakan wakil ketua Komisi IV DPR. “Daerah sawah di sini masih berharap pada hujan, baru bisa jalan. Berharap ada sumber air dan untuk lahan ada pipanisasi juga,” kata Harjono.

Harjono menjelaskan, wilayah pertanian di Kabupaten Sorong memang masih berfokus di lahan eks transmigrasi, meski desa-desa lainnya yang dihuni masyarakat asli Papua juga sedang mulai dikembangkan ke arah pertanian. Namun, Harjono mengakui kendala dalam membuka dan mengembangkan lahan pertanian, yaitu keberadaaan sumber air.

raja ampat

Sebab, selama ini pertanian di Kabupaten Sorong hanya bergantung pada air hujan. Jika tidak ada hujan, wilayah pertanian akan kering. Padahal, hasil pertanian dan peternakan dari Kabupaten Sorong untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Sorong Raya, yaitu di Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kota Sorong, dan Kabupaten Raja Ampat.

Tak jarang Kabupaten Sorong disebut sebagai lumbung pangan Sorong Raya. Untuk pengembangan wilayah pertanian, Pemkab Sorong juga berencana membuka 1.200 hektare lahan baru. Oleh karena itu, Harjono meminta agar pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pertanian, membangun pipanisasi atau jaringan irigasi untuk mengairi wilayah pertanian di Kabupaten Sorong.

Harjono meyakini, sistem pengairan ini tidak hanya bermanfaat bagi pertanian, tapi juga peternakan yang juga berpotensi besar untuk dikembangkan di Kabupaten Sorong, terutama ternak sapi. “Daging sapi semua ada di Kabupaten Sorong, termasuk unggas. Sayur-mayur juga dari Kabupaten Sorong, jadi pemasar untuk masyarakat Sorong Raya. Di sini, juga ada perkebunan kelapa sawit. Keberadaan sistem pengairan sangat penting,” ujarnya.

Direktur Pengelolaan Air Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Tunggul Imam Panudju mengatakan, pemerintah telah menggelontorkan anggaran untuk membangun irigasi seluas 2.500 hektare, enam unit embung, dan alsintan kepada Pemkab Sorong.

Akan tetapi, karena Kepala Dinas Pertanian Pemkab Sorong masih dijabat pelaksana tugas (plt), bantuan anggaran dari pemerintah pusat belum sampai ke lapangan. Oleh karena itu, Tunggul meminta kepada kepala daerah Sorong untuk segera menetapkan Kepala Dinas Pertanian Pemkab Sorong yang definitif.

Lagi pula, Tunggul menjelaskan, keberadaan irigasi merupakan salah satu syarat utama dalam cetak sawah. Dari delapan syarat utama tersebut, selain adanya irigasi atau sumber air, yaitu status lahan yang jelas, ada petaninya, ada kemauan petani untuk bercocok tanam, dan juga ada petugas penyuluhnya. “Karena, syarat-syarat tersebut harus dipenuhi sebelum cetak sawah. Jadi, saya tidak ingin dengar, cetak sawah tapi nggak ada irigasinya,” ujar Tunggul.

Selain itu, Tunggul juga menagih Pemkab Sorong yang belum juga memberikan pemetaan cetak sawah berupa gambar dan foto kepadanya. Selain itu, pemetaan jaringan irigasi juga harus segera diberikan. Jika pemetaan tersebut segera diberikan, dalam dua bulan ke depan sudah bisa dibangun jaringan irigasinya.

Ketua Tim Kerja Komisi IV DPR Herman Khaeron mengatakan, untuk meringankan beban petani, DPR mendorong untuk menjalankan subsidi agar biaya operasional petani bisa ditekan. Selain subsidi pupuk, juga ada anggaran untuk pembangunan irigasi, perluasan area sawah, dan subsidi benih. Herman juga meminta agar para petani di Papua Barat memanfaatkan adanya asuransi pertanian.

Tahun ini ditargetkan asuransi pertanian mampu mengasuransikan tiga juta hektare. Asuransi ini berguna jika lahan sawah kebanjiran atau gagal tanam, ada penggantian dari asuransi.  Untuk pembayaran asuransi, lanjutnya, para petani juga jangan khawatir akan memberatkan.

Karena, negara akan membayar premi sebesar 80 persen. Asuransi ini membayar Rp 186 ribu, maka petani hanya membayar sebesar Rp 36 ribu. “Jika gagal panen, akan dibayarkan Rp 6 juta untuk petani memulai lagi,” katanya.

sumber : republika

hermankhaeron.info – 

MENGENAKAN pakaian putih lengan pendek lengkap dengan pin DPR RI, Ir Herman Khaeron dengan percaya diri menyampaikan materi pelajaran di Kelas XI IPA SMK Islamic Centre, Senin (2/5). Momentum tokoh mengajar yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional ini bukan hal baru bagi Kang Hero-sapaan akrabnya. Dia mengaku sudah terbiasa mengajar di hadapan mahasiswa.

“Rasanya biasa saja, karena beberapa kali saya juga mengajar mata kuliah kapita selekta di perguruan tinggi,” ungkap Hero.

Saat mengajar di SMK Islamic Centre, Hero marasa dirinya kembali ke masa lalu. Dulu, ulas Hero, dia menjadi salah satu bagian siswa SMK. “Basic saya dulu kan di sekolah kejuruan teknologi. Datang kesini, saya merasa ada perasaan yang sama, ada cita-cita yang sama,” kata pria yang juga Wakil Ketua Komisi IV DPR RI itu.

Dia memberikan pemahaman kepada para siswa, terkait dunia kerja. Lulusan akan dihadapkan pada realitas yang jauh dari yang diharapkan dan diinginkan. Maka dari itu, para siswa harus mempersiapkan diri.

“Saya sendiri menyampaikan kepada para siswa untuk mempersipakan bekal kepemimpinan, manajemen dan mudah-mudahan bisa menjadi bekal yang mampu menjadi perangsang dan menggali lebih dalam lagi,” ungkapnya.

Hero juga memberikan materi mengenai teori kepemimpinan, manajeman, tugas dan fungsi DPR. Dia juga menyampaikan kepada para siswa bahwa Indonesia saat ini berada dalam masa keemasan.

Maka dari itu, Hero mencoba menggali kemampuan siswa dengan teori kepemimpinan, manajemen, serta mengulas tentang DPR. Hero juga menerangkan kepada siswa bahwa Indonesia sedang ada dalam rentang keemasan yang menjadi bonus demografi.

Ini yang harus dimanfaatkan oleh para remaja yang akan memasuki usia produktif dengan baik. Karena pada tahun 2045 merupakan 100 tahun Indonesia merdeka. “Itu merupakan batas atas pergesaran antara sekarang usia produktif yang jumlahnya lebih besar daripada usia pertanggungnya. Nanti justru akan menjadi besar di usia pertanggungan,” jelasnya.

Maka dari itu, Hero menilai penting untuk menggenjot generasi muda dan pelajar. Karena mereka yang akan menjadi bagiaan terpenting untuk mencapai keemasan negeri ini.

“Mudah-mudahan ini bisa memberikan gambaran, menjadi spirit dan stimulus bagi siswa. Agar mereka mampu menggali dan belajar terus menerus,” ucapnya

sumber: radarcirebon