Benih Jadi Penopang Pangan, Herman Khaeron Ajak ASBENINDO Bertransformasi Perkuat Swasembada Nasional

Ketua Umum Masyarakat Perbenihan dan Pembibitan Indonesia (MPPI), Herman Khaeron, menegaskan bahwa benih merupakan fondasi peradaban dan kehidupan manusia yang keberadaannya menopang berbagai sektor terkait pangan.

Untuk itu, pihaknya mengajak dan mendorong pengurus Asosiasi Perbenihan Indonesia (ASBENINDO) bertransformasi dan memperkuat benih di Indonesia guna memenuhi kebutuhan pangan dan pemunahan gizi masyarakat.

Hal tersebut, diungkapkan Herman Khaeron disela pengukuhan Pengurus ASBENINDO periode 2026-2031 di IPB Internasional Convention Center (IICC), Tegallega, Kota Bogor, Jawa Barat, pada Rabu 1 Juli 2026.

Dewan Pembina ASBENINDO itu pun menyebut bahwa di negara-negara maju, benih menjadi bagian dari sistem pertahanan negara, sehingga dilindungi secara ketat melalui sistem karantina.

“Di negara maju, benih adalah bagian dari yang dilindungi atau bagian dari pertahanan negara. Oleh karenanya, betul-betul mereka proteksi, dan bahkan sistem karantina mereka juga sangat memagari terhadap benih-benih dari luar,” kata Herman kepada wartawan.

Herman mengutip Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 yang menyatakan pangan sebagai hak asasi manusia yang harus terpenuhi secara cukup, beragam, dan bergizi seimbang hingga tingkat individu.

Ia menambahkan, pada era Presiden Prabowo Subianto, pangan menjadi program prioritas utama pemerintah. Menurut Herman, capaian swasembada pangan ke depan harus didukung oleh swasembada di seluruh instrumen produksi pertanian, mulai dari benih, pupuk, hingga pembasmi hama.

Dia juga menjelaskan tiga strategi utama untuk mencapai target tersebut, yakni intensifikasi melalui pengembangan varietas unggul, ekstensifikasi lewat perluasan lahan, dan diversifikasi pangan agar masyarakat tidak bergantung sepenuhnya pada beras.

Herman mencontohkan, penggunaan benih padi hibrida dapat meningkatkan produktivitas dari sekitar 5 ton per hektar dengan benih inbrida menjadi 10-12 ton per hektar. Ia mendorong diversifikasi konsumsi pangan pokok ke porang, sorgum, hanjeli, ubi, dan singkong, termasuk pengembangan beras artifisial (artificial rice) yang diklaim memiliki kandungan gizi lebih baik.

“Kami menekankan pentingnya pendekatan pentahelix yang melibatkan lima unsur, yaitu pemerintah sebagai regulator dan penyedia anggaran, perguruan tinggi sebagai periset, pelaku usaha sebagai penggerak investasi dan ekspansi, komunitas, serta media sebagai penyampai informasi kepada publik,” pungkasnya.Article Image

Editor :Imron Hidayat

sumber: rmoljabar