DPR Dorong Asosiasi Jadikan Aren Komoditas Andalan

hermankhaeron.info – DPR siap membantu Asosiasi Aren Indonesia untuk mendorong produk aren sebagai komoditas andalan dalam negeri.

“Produk aren mempunyai potensi yang besar, apabila dikembangkan dengan maksimal. Kita ingin aren berjaya kembali,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron saat memimpin rapat dengar pendapat dengan Asosiasi Aren Indonesia di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (22/5).

Maka dari itu menurutnya, diperlukan partisipasi dari banyak komunitas yang memiliki ketertarikan dalam pengelolaan komoditas tersebut.

“Prospek aren potensial, kita sedang mencari komunitas-komunitas untuk mendukung hal tersebut,” ujar Herman.

Herman mengungkapkan, tantangan dalam mengembangkan produk aren sejauh ini karena masyarakat belum tertarik melakukan budi daya. Aren yang ada saat ini lebih didominasi oleh tanaman yang tumbuh secara alami.

Lebih lanjut dia mengatakan, perlu ada sosialisasi yang dilakukan oleh instansi negara untuk membuat masyarakat tertarik melakukan budi daya aren. “Sejauh ini masih tumbuh alami, belum ada budi daya. Adanya budi daya adalah pertanda baik,” katanya.

Herman berharap, instansi yang terkait yakni Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dapat membuat program sosialisasi produk aren di masyarakat. Kemudian DPR akan  mengalokasikan dana khusus untuk sosialisasi, demi mendorong pengembangan produk aren.

“Kami tidak keberatan mengalokasikan anggaran dan program selama untuk kesejahteraan rakyat,” pungkas Herman.

sumber : infopublik.id

KKP Bagikan Gillnet Millenium ke Nelayan Indramayu

hermankhaeron.info – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) memberikan bantuan alat penangkapan ikan (API) gillnet millenium sebanyak 5 paket ke nelayan Indramayu.

API tersebut terdiri dari 4 paket gillnet millenium permukaan PA monofilamen panjang 500 meter dan 1 paket gillnet millenium pertengahan PA multifilamen panjang 500 meter.

Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis kepada nelayan oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI Herman Khaeron yang didampingi oleh Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Sjarief Widjaja dan Direktur Perizinan dan Kenelayanan DJPT, Saifuddin di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Dadap, Kabupaten Indramayu, Selasa (16/5).

Sjarief menjelaskan, saat ini pihaknya tengah fokus dalam penggantian API yang tidak ramah lingkungan untuk kapal di bawah 10 GT. ” Kita saat ini sedang berkeliling untuk membagikan API pengganti cantrang yang ramah lingkungan kepada para nelayan,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan pemberian bantuan ini dilakukan secara bertahap. Untuk kapal di atas 10 GT proses penggantian API akan dibantu fasilitasi dengan perbankan.

“Target bulan Agustus 2017 semoga selesai, pengadaan sedang berjalan” kata Sjarief optimis.

Dalam kesempatan tersebut, Sjarief juga melakukan peninjauan lapangan di PPI Dadap, menerima secara langsung proposal pengajuan bantuan nelayan dan berdialog dengan puluhan nelayan. (CP)

sumber: kkp.go.id

Kang Hero: Petani Gagal Panen Harus Dapat Bantuan

hermankhaeron.info – Anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat, Herman Khaeron akan upayakan bantuan bagi petani yang mengalami gagal panen. 

Mengingat tidak sedikit wilayah di Kabupaten Cirebon yang mengalami gagal panen, diantaranya Kecamatan Panguragan, Gegesik dan Kaliwedi, Suranenggala dan Kapetakan. 
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron menyampaikan, bagi petani yang mengalami gagal panen, baik yang diakibatkan oleh kebanjiran, puso, wereng dan hama lainnya harap melaporkan pada dinas terkait. Untuk kemudian dilaporkan pada Kementerian Pertanian agar mendapat bantuan. 
“Kami di DPR akan berupaya mendorong kementerian agar memberikan bantuan pada petani, agar tidak merugi dan terus berproduksi. Selain itu kita juga harus memikirkan bagaimana caranya memberantas hama padi,” paparnya.
Ia menegaskan, bagi masyarakat yang merasa berat sekali untuk memproduksi atau menanam padi kembali karena terserang hama atau yang lainnya, maka dipersilakan untuk melaoprkannya ke Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon. ia juga meminta agar dinas yang bersangkutan untuk segera berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian.
“Dan ini pun akan saya bahas sebagai aspirasi supaya mendapatkan perhatian khusus. Kami akan meminta Tim Kementerian Pertanian untuk segera turun juga ke lapangan dan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon,” ujar Hero.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, H Ali Efendi menyampaikan, terjadinya gagal panen di daerahnya pertama diakibatkan karena iklim yang ekstrem. Kedua karena siklus tanam yang terus menerus sehingga terdapat hama wereng yang rata menyerang daerah pantura.
Ia menjelaskan, dari data yang sudah masuk ke pihaknya, tercatat 750 hektare lahan sawah yang mengalami gagal panen tersebut. Dan kerugian yang dialami petani pun secara keseluruhan ditaksir hingga miliaran rupiah. “Nanti akan kita usulkan ke kementerian daerah-daerah yang terkena puso atau serangan beratlah ya,” kata Ali.
Untuk mengantisipasi tidak terjadi hal yang serupa, Ali menyarankan dan sudah menyebar surat kepada seluruh camat, UPT Pertanian, maupun penyuluh di daerahnya agar pengolahan tanah dilakukan secara serempak. 
Kemudian, untuk segera menyingkirkan atau membakar jerami-jerami bekas memanen padi. Karena, kata dia, hama wereng muncul dari jerami yang tak segera disingkirkan dari lahan padi.
“Ya upaya kita di antaranya sudah melakukan penyuluhan dan menyurati camat, UPT, dan penyuluh untuk pertama pengolahan tanah dan tanam serempak, kedua untuk segera membakar singgaang-singgang (jerami, Red),” kata Ali.
Sebelumnya, gagal panen di Kabupaten Cirebon meluas ke daerah-daerah lumbung padi di daerah ini. Terjadinya gagal panen tersebut diduga karena iklim ekstrim yang merupakan fenomena siklus 12 tahunan. Sebab hal itu juga terjadi terakhir pada 2005 lalu. (ari)

Kang Hero Apresiasi Pembentukan Satgas Pangan

hermankhaeron.info – Pembentukan Satgas Pangan diharapkan dapat mengawasi lonjakan harga pangan di pasaran. Hal ini disampaikan Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron di sela-sela acara penyerahan bantuan alat pertanian dan Upaya Khusus (UPSUS) di Desa Suranenggala, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, Jabar, Rabu (17/5).

Herman Khaeron mengatakan, pembentukan Satgas Pangan untuk mengawasi harga sejumlah bahan pangan di pasaran sangat baik dan sudah sesuai dengan UU.

Dengan adanya Satgas pangan ini, diharapkan harga sejumlah bahan pangan yang biasanya melonjak cukup tinggi jelang bulan Ramadan dan Idulfitri dapat teratasi.

“Satgas Pangan dibentuk untuk mengawasi situasi harga di pasar. Kalau wajar-wajar saja tidak masalah, tapi biasanya para spekulan menjelang momen tertentu di mana permintaan pasar meningkat itu mereka mainkan,” kata Herman.

Lanjut Herman, Satgas Pangan ini dapat memberikan efek jera bagi para spekulan atau pemain pasar untuk tidak menaikkan harga sembako melebihi harga yang telah ditetapkan pemerintah

Lebih lanjut, Herman berharap ke depannya Satgas Pangan ini bisa dibentuk menjadi satu instrumen khusus yang menangani para spekulan atau pun pemain pasar.

“Ke depan bukan hanya satgas, tapi secara reguler, secara organik dibentuk direktorat khusus untuk menangani spekulan,” pungkas politisi Partai Demokrat ini.

sumber: merahputih.com

Komisi IV DPR Apresiasi Langkah Penghentian Plastik Berbayar

hermankhaeron.info – Jelang Ramadhan, harga barang-barang kebutuhan pokok mulai merangka. Setidaknya harga daging, telur, cabe, dan bawang mulai mengalami kenaikan, meski belum terlalu besar.

Untuk itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron mengingatkan pemerintah untuk segera mencari jalan jitu menekan kenaikan barang-barang tersebut agar tidak memberatkan masyarakat, utamanya umat Muslim yang akan menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan.

Herman meminta, pendekatan yang dilakukan pemerintah tidak melulu bertumpu kepada pasokan. Berkaca pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, pasokan yang memadai juga tidak bisa menurunkan harga barang kebutuhan pokok menjadi normal kembali.

“Meski produksi mencukupi, belum tentu harga bisa stabil. Ini yang selalu saya ingatkan bahwa banyak instrumen yang menyebabkan harga akan naik di Ramadhan dan Idul Fitri,” terang politisi Demokrat ini, Jumat (12/5).

Buat umat Islam, lanjut Herman, Ramadhan dan Idul Fitri adalah momentum spesial. Makanya, pendekatan terhadap stabilitas harga pangan harus menyesuaikan kebiasaan dan kultur yang selama ini berlaku secara khusus di masyarakat.

Pada Ramadhan dan Idul Fitri, terangnya, banyak pedagang yang mengurangi barang jualannya sejalan dengan mengurangi waktu kerja mereka. Bahkan, sebagian pedagang stop berjualan demi fokus menjalankan ibadah di Ramadhan dan mempersiapkan Lebaran Idul Fitri.

Pada saat yang sama, masyarakat membeli persediaan pangan yang berlebih. Ini biasanya terjadi H-10 dan H+10 Idul Fitri. Kemudian, budaya mudik juga menggeser peta konsumsi. Konsumsi di daerah perkotaan seperti Jakarta akan turun drastis, sedangkan di daerah pedesaan akan meningkat.

“Pertanyaanya, jika suplay melimpah tetapi terjadi kondisi seperti ini, bagaimana solusinya? Siapa yang akan menggantikan pedagang di pasar? Siapa juga yang menggeser suplay ke daerah tujuan mudik?” tanya Herman.

Selain itu, tambahnya, selama Ramadhan dan Idul Fitri, daya beli masyarakat biasanya meningkat. Pilihan terhadap pangan yang berkualitas lebih penting dan biasanya kenaikan harga dianggap menjadi hal yang biasa.

“Namun, seperti yang sudah diatur dalam UU Nomor 18/2012 tentang Pangan, Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah harus menjaga pangan agar tersedia dan terjangkau secara cukup, beragam, dan bergizi seimbang. Ini pula merupakan bentuh pemenuhan kewajiban Pemerintah dalam penyediaan pangan sebagai hak azasi manusia,” jelasnya.

Makanya, Herman meminta pemantauan harga pangan di pasar dan pergeseran daerah konsumsi harus cermat dan terukur. Penurunan suplay yang diakibatkan berkurangnya jumlah pelaku usaha pangan juga harus diperhitungkan. [ian]

sumber: rmol.co

Pendemo Meninggal, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI akan Kunjungi Pabrik Semen Rembang

hermankhaeron.info – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron menyarankan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan agar memiliki kapal khusus untuk wisata untuk mempermudah wisatawan melihat keindahan alam nan eksotis yang dimiliki Bintan.

“Pemerintah daerah (Pemda) harus memiliki kapal pariwisata yang kemudian dikelola langsung oleh masyatakat, seperti di Pulau Mapur ini,” kata Herman Minggu (14/5/2017) kemarin.

Ia menerangkan, hasil kunjungannya ke pulau terluar tersebut ditemukan sangat banyak potensi pariwisata yang perlu dikembangkan. Salah satunya bebatuan di tepi pantai yang terssusun rapi secara alami. Menurutnya, sangat disayangkan kalau dibiarkan begitu saja. Jika pemerintah dan masyarakatnya lebih aktif, ini bisa menjadi modal untuk mendatangkan wisatawan dari luar.

“Saya sudah lihat sendiri begitu indahnya bebatuan yang tersusun rapi itu, benar-benar indah. Jika dikelola dengan baik ini bisa mendatangkan wisatawan lebih banyak,” ujar Herman.

Tidak hanya itu, ia juga mengatakan bahwa di Pulau Mapur kondisi alam dengan hutannya masih sangat terjaga. Begitu juga dengan serta pasir putih dan karang-karang yang eksotis akan menarik perharian pengunjung untuk berlibur.

“Saya harap pemerintah dan masyarakat dapat bekerjasama dalam mengembangkan potensi alam yang masih terpendam ini. Saya akan dukung sepenuhnya untuk demi meningkaktkan perekonomiam masyarakat,” harap Herman.

sumber: batamtoday

Komisi IV Siap Bantu Pandeglang Kembangkan Potensi Perekonomian

hermankhaeron.info – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron menilai sikap Parlemen Uni Eropa yang mengeluarkan resolusi terhadap komoditas sawit dari Indonesia sesungguhnya adalah bentuk dari politik perdagangan untuk memproteksi komoditas dari Eropa.

“Eropa mengeluarkan resolusi terhadap sawit Indonesia dan produk turunannya dengan tudingan masih memunculkan beberapa masalah, yakni deforestasi, korupsi, pekerja anak, serta pelanggaran HAM,” kata Herman Khaeron pada diskusi “Embargo Sawit, Lawan Parlemen Eropa” di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Kamis.

Herman menegaskan pembukaan lahan sawit di Indonesia dampaknya terhadap pembukaan lahan di dunia hanya sekitar 2,5 persen, adalah jumlah yang sangat kecil dan tidak signifikan.

Menurut dia, kalau di Eropa membuka lahan untuk perkebunan bunga matahari, kedelai, dan sebagainya, hal itu juga berdampak pada bidang lainnya, terutama berdampak pada lingkungan.

“Namun Parlemen Uni Eropa, tidak mau menjelaskan hal ini dan di sisi lain menuding pembukaan lahan sawit di Indonesia berdampak pada lingkungan,” katanya.

Herman menilai, resolusi yang dikeluarkan Parlemen Uni Eropa terhadap sawit Indonesia adalah imbauan untuk tidak menggunakan palm oil dan produk turunannya termasuk biodiesel.

Sikap Parlemen Uni Eropa yang mengeluarkan resolusi, menurut dia, pada prinsipnya adalah perlindungan terhadap komuditas di Eropa seperti bunga matahari dan kedelai.

“Eropa menyadari kehadiran sawit di pasar dunia, memberikan tekanan berat terhadap efisiensi yang basisnya komuditas yang mereka hasilkan,” katanya.

Politisi Partai Demokrat ini menjelaskan, saat ini sudah ada pergeseran sumber energi dari minyak fosil ke minyak nabati, terutama biodiesel dari sawit yang ramah lingkungan.

Kehadiran biodiesel dari sawit ini, kata dia, menjadi ancaman besar bagi minyak bunga matahari yang dihasilkan Uni Eropa.

“Menurut saya, sikap embargo dari Perlemen Uni Eropa adalah konteks persaingan dagang yang ditarik-tarik ke politik dagang mereka,” katanya.

Herman melihat, Uni Eropa hanya mencari-cari alasan kemudian ada “code of conduct” yang mereka keluarkan seolah-olah ini menjadi etika lingkungan yang melarang perdagangan sawit dari Indonesia.

Herman menegaskan. agar Indonesia berani mengambil langkah tegas terhadap embargo yang dilakukan Parlemen Uni Eropa terhadap produk sawit Indonesia.

“Kalau bicara strong point, Indonesia sebagai penyelenggara konferensi internasional perubahan lingkungan memiliki posisi hukum yang sangat kuat untuk berargumentasi,” katanya.

sumber: antaranews

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron

hermankhaeron.info – Setelah dilikuidasinya organisasi pemerintah setingkat eselon 1 pascapanen, tidak ada lembaga negara lagi yang mengurusi panen pangan. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron menjelaskan baik di Kementerian Pertanian maupun di Kementerian Kelautan dan Perikanan, tidak ada yang mengurusi pascapanen.

Sedangkan pemerintah, kata Herman, sudah berjanji akan membentu Lembaga Pangan Nasional yang tugasnya khusus memantau panen raya. “Padahal dalam UU 18 tahun 2012 tentang pangan, justru mengharuskan dibentuknya Lembaga Pangan Nasional,” ujar Herman, Senin (1/5/2017).

Lembaga tersebut nantinya akan berada di bawah Presiden RI langsung. Sehingga semua tanggung jawab pangan terutama pascapanen ada di Lembaga Pangan Nasional.

“Lembaga di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden,” ungkap Herman.
Politisi Demokrat itu menambahkan secara regulasi lembaga tersebut sudah sah. Namun sejak 2015 sejak direncanakan, Lembaga Pangan Nasional kata Herman belum kunjung dibentuk.

“Semestinya menurut amanah Undang-undang sudah terbentuk pada november 2015, yang sampai saat ini belum juga terbentuk,” papar Herman.

sumber: tribunnews

hermankhaeron.info – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron, mengungkapkan bahwa industri pertanian adalah ruang usaha rakyat, dan sesuai dengan prinsip ekonomi Pancasila, maka negara harus hadir dalam menjamin kesejahteraan petani. Namun di sisi lain, juga sangat penting bagi Pemerintah untuk mampu menjaga stabilitas harga pangan di tingkat konsumen.

“Undang-Undang (UU) Nomor 18 tahun 2012 tentang pangan telah menggariskan bahwa pangan adalah hak azasi manusia, dan dalam pemenuhannya kepada setiap individu masyarakat bahwa pangan harus tersedia dan terjangkau secara cukup, beragam dan bergizi seimbang,” ungkapnya kepada wartawan, Jakarta, Senin (1/5/2017).

Menurut Herman, Indonesia dikaruniai oleh Yang Maha Kuasa sebagai negara agraris, dan karenanya sepanjang tahun dapat memproduksi pangan sesuai keunggulan komoditasnya. Namun, masalahnya juga sangat banyak, bahkan sepertinya sudah membudaya.

Herman menjelaskan, persoalan lahan, air, benih, pupuk, permodalan, teknologi, dan perubahan iklim menjadi masalah produksi yang selalu menghantui petani. Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan daya beli masyarakat juga terus menerus menjadi faktor meningkatnya permintaan terhadap pangan, sehingga butuh upaya ekstra dalam pemenuhannya.

“Saat ini, penduduk kita sebesar 255 juta jiwa, total luas lahan darat kita 1,9 juta km2, dengan luas lahan pertanian pangan hanya 7,5 juta Ha. Sejalan dengan pembangunan  infrastruktur dan kebutuhan pembangunan lainnya di negeri ini, lahan pertanian produktif tergerus terus, dan ke depan akan menjadi semakin sempit. Begitu juga dengan ketersediaan air sebagai sumber utama produksi pertanian semakin menurun daya dukungnya,” ujarnya.

Sementara itu, lanjut Herman, petani hanya terlibat dalam budidaya pertanian saja, petani hanya terbatas dalam usaha menanam atau budidaya dan tidak menikmati pasca panen. Ruang keuntungan di pasca panen hanya dinikmati oleh para pedagang dan industri yang sebagian besar dikuasai oleh pemodal, dan disinilah sesungguhnya keuntungan terbesar di sektor pangan. Sehingga selalu saja muncul stigma permainan para spekulan, kartel, atau mafia pangan dalam perjalanannya.

Herman menuturkan, pasca dilikuidasinya organisasi pemerintah setingkat eselon 1 pasca panen, baik di Kementerian Pertanian maupun di Kementerian Kelautan dan Perikanan, tidak ada yang mengurusi pasca panen. Padahal dalam UU 18 tahun 2012 tentang pangan, justru mengharuskan dibentuknya Lembaga Pangan Nasional di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden, yang semestinya menurut amanah UU sudah terbentuk pada November 2015 lalu, yang sampai saat ini belum juga terbentuk.

“Menanggapi apa yang menjadi pernyataan presiden, saya merespon secara positif dan berharap pemerintah konsen terhadap persoalan pangan dengan berbagai upaya intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasinya, dengan segera membentuk Lembaga Pangan Nasional, mempermudah permodalan, dan melibatkan petani dalam perannya di pasca panen, sejalan dengan itu, pembangunan infrastruktur dan suprastruktur lainnya di bidang pertanian juga mendapat perhatian prioritas dari pemerintah,” katanya.

Pewarta: DM/Rudi Niwarta

sumber: nusantaranews