Menyatukan penguatan ekonomi kerakyatan hingga akar rumput, Anggota Komisi VI DPR RI, HE Herman Khaeron, turun langsung menyerap denyut nadi aspirasi masyarakat melalui kegiatan reses di Desa Pasuruan, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon. Dalam kunjungan kerja yang sarat dialog konstruktif ini, politisi yang akrab disapa Kang Hero tersebut membahas berbagai persoalan krusial yang langsung bersentuhan dengan kesejahteraan warga, mulai dari tata kelola pertanian, mitigasi banjir, hingga akselerasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kegiatan reses yang berlangsung hangat ini menyoroti program strategis nasional, khususnya Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang diinisiasi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Di hadapan ratusan warga dan aparatur setempat, Kang Hero menekankan bahwa arah kebijakan ekonomi desa harus mampu menjembatani hasil produksi lokal langsung ke pasar tanpa rantai distribusi yang merugikan petani.
“Jika konsep dan niat program pemerintah pusat sudah sangat baik, maka implementasi di lapangan harus dikawal secara ketat. Ada yang sudah berjalan optimal, namun ada pula yang perlu dievaluasi dan diperbaiki agar manfaatnya benar-benar dirasakan,” ujar masyarakat Herman Khaeron.
Dalam skema pengembangan ke depan, KDMP diproyeksikan tidak sekadar menjadi pusat kegiatan ekonomi pedesaan semata. Koperasi ini diharapkan mampu menjelma sebagai pusat layanan terpadu yang menyediakan kebutuhan pokok, fasilitas kesehatan seperti klinik dan farmasi, hingga bersinergi erat dengan Perum Bulog.
“KDMP bisa difungsikan untuk membantu penyerapan gabah petani. Sinergi antara Bulog dan KDMP perlu dibangun agar rantai distribusi lebih efektif dan manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat desa,” katanya.
Sinergi ini dinilai penting untuk menjamin stabilitas harga dan penyerapan gabah petani lokal dengan usulan harga pembelian gabah kering panen minimal Rp6.500 per kilogram. Selain itu, KDMP juga disiapkan untuk memangkas rantai distribusi barang bersubsidi, seperti pupuk dan tabung LPG 3 kilogram, guna mencegah praktik penimbunan di tingkat bawah.
Menyigi Krisis Irigasi dan Ancaman Banjir Tahunan
Persoalan klasik sektor agraris turut mendominasi sesi dialog interaktif. Kuwu Desa Babakan Losari Lor, Didi Sutardi, secara terbuka menyampaikan keluhan ihwal minimnya infrastruktur irigasi yang memadai. Kondisi ini membuat puluhan hektar lahan pertanian warga mengalami krisis udara, terutama saat musim kemarau tiba. Tercatat ada sekitar 60 hektar ditambah 30 hektar lahan produktif di wilayah tersebut yang sangat bergantung pada perbaikan saluran irigasi.
Herman Khaeron menilai bahwa penguatan infrastruktur pertanian mutlak harus terus disuarakan dan diperjuangkan, demi memastikan sektor agraris mendapatkan porsi perhatian yang memadai dalam agenda pembangunan nasional.
“Jalan usaha tani belum menjadi bagian dari program strategis pekerjaan umum. Nanti akan saya dorong agar bisa masuk dalam program tersebut,” ungkapnya.
Tak hanya urusan kemarau, ancaman banjir tahunan akibat luapan Sungai Cisanggarung juga menjadi momok yang mempengaruhi aktivitas warga serta produktivitas pertanian setempat. Menanggapi hal tersebut, Herman Khaeron bergerak cepat dengan meminta pemerintah desa segera menyusun surat resmi berisi data dan kronologi kebutuhan infrastruktur, agar usulan tersebut bisa langsung diteruskan ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta diintegrasikan ke dalam program pembangunan nasional maupun Provinsi Jawa Barat.
Dongkrak UMKM dan Ruang Kreatif Pemuda
Selain sektor pertanian, dorongan perekonomian melalui sektor UMKM dan keterlibatan generasi muda mendapat perhatian yang signifikan. Sejumlah warga memanfaatkan momen tersebut untuk mengatasi kendala permodalan, akses program kemitraan Mitra Sehati, hingga kebutuhan sarana penunjang usaha.
Merespons keluhan seorang pedagang kantin kecil yang membutuhkan gerobak, Kang Hero secara spontan langsung merealisasikan bantuan gerobak usaha agar roda perekonomian keluarga tersebut dapat terus berputar. Dukungan serupa juga disuarakan oleh Ketua Karang Taruna Kecamatan Pabedilan, Adin, yang mengusulkan pengembangan potensi wisata desa penyangga serta fasilitas pemeliharaan kepemudaan.
Melalui serangkaian penyerapan aspirasi ini, Herman Khaeron menegaskan komitmennya untuk terus menggalang setiap permasalahan warga di tingkat pusat. Kolaborasi aktif antara masyarakat, pemerintah desa, dan lembaga legislatif diyakini menjadi kunci utama dalam mewujudkan kemandirian ekonomi desa yang berkelanjutan di kawasan Cirebon Timur. (merah/dbs)
sumber: jabarpublisher
