Herman Khaeron: Pemulihan Ekonomi Tidak Ada Gunanya Kalau Keselamatan Jiwa Terancam

Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron menyayangkan adanya disharmonisasi hubungan Direksi dan Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB).

Menurut Herman Khaeron, permasalahan tersebut harus bisa diatasi agar tidak menjadi boomerang buat Pertamina.

Diketahui, FSPPB mengancam akan melakukan aksi mogok kerja pada 29 Desember 2021 hingga 7 Januari 2022. Mereka mengklaim melancarkan aksi mogok kerja dilakukan oleh seluruh pekerja Pertamina Group di seluruh wilayah.
“Semestinya Serikat Pekerja Pertamina bisa duduk bersama dengan direksi dan menyampaikan tuntutannya secara baik-baik kepada direksi Pertamina, dan tidak perlu mangambil upaya dengan mengancam untuk mogok kerja karena akan memperkeruh keadaan dan mengganggu kinerja Pertamina secara koorporasi,” ujar Herman Khaeron kepada wartawan, Jumat (24/12/2021).

Herman Khaeron menegaskan, ada kepentingan yang lebih besar kedepan bagaimana mewujudkan pertamina menjadi BUMN yang kuat dan kontributif bagi rakyat, bangsa, dan negara.

“Tentu kita tahu bahwa Pekerja adalah instrumen penting dalam sistem perusahaan, oleh karenanya kinerja perusahaan akan sangat ditentukan oleh kinerja pekerjanya,” tuturnya.

Namun, lanjut politikus Demokrat itu, Direksi juga sebagai pimpinan dan pengatur jalanya roda perusahaan memiliki kewenangan dan menentukan arah kebijakan koorporasi.

“Harus harmoni keduanya,” imbuhnya.

Lebih lanjut Herman Khaeron mengatakan, ia menghargai aspirasi dan tuntutan serikat pekerja Pertamina, tetapi harus dipahami bahwa kebijakan Pertamina sebagai BUMN tidak terlepas dari kebijakan pemerintah.

“Dan saya memahami apa yang terjadi di dalam. Oleh karenanya, duduklah bersama dan janganlah karena ada tuntutan yang belum direalisasi menuntut direksi dipecat,” ujarnya.

“Kita pasti tahu bahwa segala pergerakan serikat pekerja biasanya sangat berpengaruh terhadap stabilitas dan kredibilitas perusahaan, dan jangan sampai menjadi boomerang. Maksudnya untuk kebaikan pekerja, tetapi dampak eksternalnya menjadi tidak baik,” tuturnya.

 

sumber: tribun

Herman Khaeron Raih Penghargaan Legislator DPR Terdemokratis

Anggota DPR Herman Khaeron mendapat penghargaan sebagai Legislator DPR demokratis dalam ajang Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) Award 2021.

Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap kiprah dan dalam merespons isu-isu, utamanya yang berkaitan dengan tugas dan fungsinya sebagai Anggota Komisi VI DPR.

“Award ini saya persembahkan untuk istri dan anak-anak, yang telah merelakan sebagian besar waktu saya untuk berbakti pada bangsa dan masyarakat,” kata Herman Khaeron, usai mendapat penghargaan, Rabu, 15 Desember 2021.

Herman Khaeron juga mengapresiasi para tim dan pemilihnya di dapil VIII Jawa Barat (Cirebon dan Indramayu), yang telah mengantarkan dirinya sebagai anggota DPR.

“Karena mereka itu semua membuat saya untuk berkesempatan mendapatkan award ini,” jelasnya.

Herman Khaeron merasa penghargaan itu menjadi motivasi untuk dirinya agar bekerja lebih baik lagi untuk rakyat. Selain itu menjadi pendorong motivasi dan semangat.

“Agar saya terus berbuat yang terbaik bagi rakyat, mengedepankan kerja-kerja politik dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, ” kata legislator Partai Demokrat ini.
sumber: medcom

Komisi VI Dorong PTPN Perbaiki Kinerja

Komisi VI DPR RI memastikan stok beras nasional yang disimpan di gudang Perum Bulog menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) dalam kondisi aman terkendali. Masyarakat tidak perlu khawatir dan bisa merayakan Natal dan Tahun Baru dengan sukacita.

Pada Kunjungan Kerja (Kunker) Spesifik Masa Persidangan II ke Gudang Perum Bulog di Cirebon Jawa Barat tanggal 19-21 November lalu, Komisi VI DPR RI melihat langsung stok beras yang tersedia.

Anggota Komisi VI DPR RI, Herman Khaeron menjelaskan, keberadaan Perum Bulog harus lebih diperkuat, salah satunya untuk menjaga pasokan pangan utama seperti beras.

Komoditas beras dipastikan harus dijaga ketersediaannya, diupayakan tidak impor beras dan memasok dari produksi petani dalam negeri sehingga tercipta rantai pasok yang menguntungkan.

“DPR secara umum harus memberikan dukungan kepada Bulog agar statusnya kembali kepada status semula sebagai buffer stock nasional,” ujar dia di Jakarta, Senin (13/12).

Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Mokhamad Suyamto mengatakan, stok beras yang dikuasai oleh Perum Bulog saat ini mencapai 1,3 juta ton, dan pihaknya sudah mengeluarkan instruksi ke seluruh jajaran untuk menyiapkan stok beras dan kebutuhan pangan lainnya yang menjadi tanggung jawab Perum Bulog.

Masyarakat tidak perlu khawatir,  Perum Bulog menjamin kebutuhan beras dan pangan lainnya tersedia di masyarakat meskipun ada lonjakan permintaan yang mendadak.

Perum Bulog sendiri memastikan seluruh jaringan yang bekerjasama sudah menyediakan kebutuhan beeras di tingkat lokal baik secara online maupun offline, juga outlet milik Perum Bulog seperti Rumah Pangan Kita (RPK) yang tersebar di seluruh Indonesia sudah menyedikan beras berkualitas.

Tidak hanya memastikan ketersediaan pangan aman terkendali, Perum Bulog juga ikut berkontribusi dalam menunjang gizi dan pertumbuhan Balita Bawah Garis Merah (BGM) dengan menghadirkan program Bulog Peduli Gizi.

Belum lama ini, melalui  program Bulog Peduli Gizi, Perum Bulog menggelontorkan Beras Fortivit (beras bervitamin) dan melaksanakan pemeriksaaan kesehatan gratis kepada Balita dan keluarganya di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Direktur Human Capital Perum Bulog, Purnomo Sinar Hadi mengatakan, Program Bulog Peduli Gizi merupakan komitmen nyata perusahaan di tengah masyarakat dengan memberikan pemahaman mengenai kesehatan balita.

Bantuan yang diberikan dalam program Bulog Peduli Gizi di Kabupaten Kupang NTT berupa Beras Fortivit sebanyak 5.730 kilogram, masker, obat-obatan serta vitamin kepada 382 Balita BGM selama tiga bulan kedepan.
Terobosan fortifikasi produk pangan seperti pada garam, tepung terigu, minyak dan beras yang telah dikembangkan saat ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas nutrisi di makanan contoh nyatanya sepertinya yang telah dilakukan Bulog pada Beras Fortivit.

Sumber: investor

Anggota Komisi VI Pertanyakan Alasan 49% Saham Kualanamu Dijual ke Asing

Operator bandara dari India, GMR Airports Consortium, memegang 49 persen saham PT Angkasa Pura Aviasi, yang mengelola Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut). Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron mengkritik keras hal itu.

“Sebaiknya objek usaha BUMN yang menguntungkan tetap menjadi kepemilikan mutlak negara melalui BUMN. Justru kerja sama semestinya terhadap objek usaha BUMN yang membutuhkan suntikan investasi dan dukungan pihak ketiga,” kata Herman Khaeron kepada wartawan, Jumat (26/11/2021).

Dia mengatakan usaha BUMN yang menguntungkan tak boleh dijual. Menurutnya, BUMN harus berupaya mendapat untung dan menyetor duit ke negara.

“Sederhananya, jangan yang untung dijual, tapi yang rugi dipertahankan, ini pula yang menyebabkan BUMN tidak memperoleh laba dan setor dividen yang meningkat bagi negara,” ujar Kepala BPOKK Partai Demokrat ini.

Dia mempertanyakan alasan penjualan 49 persen saham pengelola Kualanamu ke perusahaan asing. Dia mengatakan Komisi VI bakal meminta penjelasan kepada Menteri BUMN Erick Thohir.

“Saya mendapatkan info bahwa pihak konsorsium mendapat 49 persen kepemilikan dengan pola BOT selama 25 tahun, hal ini akan kami dalami dan minta penjelasan kepada Menteri di Komisi VI DPR untung-ruginya, baik jangka pendek maupun jangka panjang,” ujarnya.

Sebelumnya, GMR Airports Consortium resmi masuk dalam pengembangan Bandara Internasional Kualanamu. PT Angkasa Pura (AP) II akan melakukan kemitraan strategis untuk pengembangan bandara ini selama 25 tahun ke depan.

Skema kemitraan strategis untuk pengembangan bandara ini memiliki nilai investasi kerja sama sekitar USD 6 miliar atau sekitar Rp 85,2 triliun. Termasuk investasi dari mitra strategis sedikitnya Rp 15 triliun.

Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin menyatakan GMR sudah menyampaikan rencananya untuk mengembangkan Bandara Internasional Kualanamu dengan menargetkan penumpang hingga 54 juta orang pada tahun ke-25 kemitraan atau setara dengan Bandara Soekarno-Hatta saat ini.

“Trafik penerbangan akan meningkat, lalu akan ada alih teknologi dan keahlian, serta berbagi porsi modal di Bandara Internasional Kualanamu,” ujar Awaluddin dalam keterangannya, Selasa (23/11).

AP II dan GMR Airports Consortium akan menjadi pemegang saham di joint venture company (JVCo), yakni PT Angkasa Pura Aviasi. Perusahaan tersebut menjadi pengelola Bandara Internasional Kualanamu. Rinciannya, AP II menguasai mayoritas 51 persen saham di PT Angkasa Pura Aviasi, sementara GMR Airports Consortium sebesar 49 persen.

Meski demikian, AP II menegaskan tak ada penjualan aset Bandara Kualanamu. Kepemilikan Bandara Internasional Kualanamu beserta asetnya 100 persen tetap milik AP II. JVCo disebut hanya akan menyewa aset kepada AP II untuk dikelola selama 25 tahun.

 

sumber : detik

Partai Demokrat  dukung percepatan vaksinasi Covid-19 khususnya dosis kedua bagi masyarakat Kota Cirebon dan sekitarnya. Diinisiasi oleh Anggota DPR-MPR RI Herman Khaeron dan Srikandi Demokrat, kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Zamrud, Kota Cirebon, Senin-Selasa (11-12/10).

Selain itu, pelaksanaan kegiatan tersebut juga merupakan rangkaian Bulan Bakti 20 Tahun Partai Demokrat yang jatuh pada September. Tujuannya agar masyarakat memiliki imunitas tubuh yang lebih kuat dan bisa mencegah dari serangan virus Covid-19.

Ketua Panitia Herry Gushery mengatakan, vaksinasi tahap kedua tersebut sebagai upaya lanjutan dari vaksinasi pertama yang sudah digelar pada 13-14 September 2021. Total setidaknya ada 2.000 dosis yang disalurkan untuk vaksinasi dosis pertama dan dosis kedua.

“Ini salah satu bukti nyata dari Herman Khaeron untuk daerah pemilihannya. Beliau menurunkan 2.000 dosis, 1.000 dosis untuk vaksin pertama dan 1.000 dosis untuk vaksin kedua,” tutur Herry. “Kita adakan selama dua hari dan ini juga masih termasuk perayaan 20 tahun Partai Demokrat,” tambahnya.

Lebih lanjut, Herry mengatakan bahwa kegiatan tersebut mendapatkan respons yang positif dari masyarakat Kota Cirebon dan sekitarnya. Meskipun dalam pelaksanaan sempat terjadi kendala beberapa masyarakat tidak dapat divaksinasi karena tensi yang tinggi.

“Saya lihat alhamdulilah antusiasme masyarakat tinggi. Mudah-mudahan kita dapat membantu pemerintah Kota Cirebon dan sekitarnya untuk vaksin bisa tersebar dan memberikan kekuatan kepada masyarakat Kota Cirebon,” terangnya.

Selain itu juga, dalam pelaksanaan vaksinasi tersebut, proses pemeriksaan dan penyuntikan dilakukan di ruangan yang berbeda. Sehingga, tidak terlalu menimbulkan kerumunan warga yang signifikan. Serta dapat membuat lebih tertib antrian. Para warga juga disediakan makanan snack saat hendak divaksin.

Sementara itu, salah satu peserta vaksinasi Covid-19 dosis kedua di Hotel Zamrud tersebut, Fitria Dewi mengucapkan terima kasih kepada Partai Demokrat yang telah mengadakan vaksinasi tersebut. “Terima kasih untuk Bapak Agus Harimurti Yudhoyono dan Herman Khaeron yang telah melakukan vaksinasi dosis 1 dan 2 di Kota Cirebon ini,” ucapnya. (jrl/opl)

sumber: radarcirebon

Baleg Pantau Implementasi UU 18 Tahun 2012 untuk Dorong Kemandirian Pangan di Sulsel

Wacana pembentukan provinsi baru yakni Provinsi Cirebon Raya yang digagas Komite Percepatan Pembentukan Provinsi Cirebon Raya (KP3C) ditanggapi beragam sejumlah tokoh Wilayah III Cirebon.

Berbeda dengan Bupati Majalengka, Karna Sobahi dan Wali Kota Cirebon, H Nashrudin Azis yang secara terang-terangan menolak wacana yang digulirkan KP3C, Bupati Cirebon, H Imron belum memberikan ketegasan sikap atas ide pembentukan Provinsi Cirebon Raya.

Saat ditanya sejumlah wartawan, Imron hanya berikan senyum tipis menanggapi hal itu. Namun, ia menepis isu yang menyebut telah mengeluarkan surat keputusan (SK) pernyatan dukungan bagi pembentukan Provinsi Cirebon Raya. Imron menegaskan, belum pernah mengeluarkan SK apapun terkait hal itu.

Selaku kepala daerah, Imron mengatakan, masalah Provinsi Cirebon masih perlu kajian lebih dalam lagi. Pihaknya, belum berani menyatakan setuju atau tidak setuju terkait masalah itu.

“Kita belum keluarkan SK, masih perlu kajian lebih lagi,” kata Imron sembari memberikan senyum tipis pada awak media, Senin (4/10/2021).

Berbeda dengan Imron, di tempat lain, anggota Komisi VI DPR RI, Dr. Ir. H. Herman Khaeron secara tegas mengaku setuju dan mendukung dengan adanya deklarasi Provinsi Cirebon Raya. Ia menyebut, Cirebon Raya sudah siap menjadi provinsi.

“Provinsi Cirebon sudah jadi perjuangan saya pada saat masih di periode pertama, sudah lama diperjuangkan untuk dapat dimasukkan sebagai Otda baru di tingkat provinsi, tapi keburu  dimorotarium. Kajiannya pun sudah komprehensif baik secara sarana dan prasarana kantor, besaran fiskal,” kata Herman Khaeron.

Pria yang akrab disapa Hero itu mengungkapkan, gagasan pembentukan Provinsi Cirebon sudah melalui kajian yang sangat mendalam, tapi karena morotarium jadi tertunda.

Diakui Hero, pembentukan provinsi baru tetap memerlukan persetujuan Gubernur Jawa Barat.

“Bagaimana persetujuan Gubernur Jabar, terhadap rencana pembentukan ini, karena tanpa persetujuannya maka akan terhambat,” tuturnya.

Meski ada penolakan salah satu kepala daerah di Cirebon Raya, menurut Hero, bila sudah ada persetujuan di DPR dan pemerintah, maka kendala tersebut akan mudah.

“Kan syarat utama persetujuan DPRD dan bupati di wilayah yang dimekarkan, kemudian persetujuan provinsi induk. Selanjutnya masuk di dalam prolegnas pembentukan otonomi daerah baru. Ini juga sejalan harus dibukanya morotarium. Kajiannya pun masih ada dan relevan,” ujarnya.

Kajiannya sudah ada, sambungnya secara tegas, hanya perlu melengkapi dan menambahkan, sehingga dapat terbentuk Otda baru. (Sarrah)

sumber: suaracirebon

Herman Khaeron Minta RNI Buka Ruang Mediasi soal Lahan Tebu di Indramayu

Insiden bentrok petani tebu di wilayah hak guna usaha (HGU) PG Jatitujuh atau dibawah naungan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) disesalkan oleh anggota Komisi VI DPR RI, Dr. Ir. H. E. Herman Khaeron.

“Saya turut berbela sungkawa atas korban jiwa petani tebu. Saya juga mengajak semua pihak untuk duduk bersama menyelesaikan sengketa lahan ini dengan musyawarah dan mengedepankan kebersamaan,” kata dia.
Konflik di kawasan lahan tebu atau lahan HGU PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) ini telah berlangsung lama. Herman Khaeron mengaku, ia beberapa kali memfasilitasi pertemuan dengan kementerian kehutanan sebagai pemilik lahan dan PT RNI (Persero) sebagai pemilik HGU kebun tebu ini.
“Namun sayangnya, tidak pernah selesai. Direksi RNI tidak pernah mendudukan persoalan ini dengan baik, bahkan selalu dengan cara-cara pendekatan aparat. Saya meyakini, jika RNI serius menangani konflik pertanahan ini, dapat selesai secara baik dan dibangun sinergi saling menguntungkan antara BUMN dan warga sekitar,” ujarnya.
Saat ini telah menelan korban jiwa dan jika tidak diselesaikan secara komprehensif, akan terus terjadi konflik yang berkepanjangan dan merugikan harmonisasi antar warga.
“Saya berharap polisi dapat menegakan hukum seadil-adilnya, memproses yang menyebabkan terjadinya 2 warga meninggal, dan membebaskan warga yang tidak bersalah. Aparat kepolisian tidak perlu represif, tegakkan saja hukum seadil-adilnya,” ujarnya.

Konflik Lahan Tebu

Terkait dengan Tar, salah seorang pimpinan F-Kamis dan juga anggota DPRD Kabupaten Indramayu dari fraksi demokrat, Herman meminta semua pihak dapat menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah.
“saya yakin tidak terlibat bentrokan, dan saya tahu sejak menjabat kepala desa dulu, aktif membela warga. Beberapa kali saya memfasilitasi pertemuan dengan para pejabat negara terkait dengan kawasan hutan di wilayah selatan Indramayu, beliau selalu menyampaikan bahwa sejarahnya kawasan itu adalah kawasan hutan dan warga berkeinginan mengembalikanya menjadi kawasan hutan sebagai penyangga kehidupan masyarakat,” ujarnya. ***
sumber: kumparan

Baleg Pantau Implementasi UU 18 Tahun 2012 untuk Dorong Kemandirian Pangan di Sulsel

Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron mengatakan Pertamina harus melakukan restrukturisasi agar lebih lincah dan efisien dalam mengembangkan bisnisnya

Herman Khaeron menyatakan langkah itu diperlukan Pertamina agar tidak dilibas perusahaan lain dalam persaingan bisnis yang semakin ketat.

“Jika tidak melakukan restrukturisasi, Pertamina akan ditelan perusahaan swasta. Karena perusahaan harus kuat dan modalnya harus kuat. Kalau mau kuat harus melakukan hal-hal baru, seperti ekspansi melalui restrukturisasi. Terpenting saham holding 100 persen milik negara,” ujarnya di Jakarta, Jumat, 30 September 2021.

Herman menjelaskan, korporasi yang tidak bergerak dan kurang modal, tentu tidak bisa melakukan ekspansi, meningkatkan laba, dan meningkatkan deviden. Hal sebaliknya dengan perusahaan yang terus bergerak dan memperbesar modal, antara lain melalui restrukturisasi.

“Melalui upaya tersebut, perusahaan bisa meningkatkan kemampuan dan berkontribusi kepada rakyat,” ujar politisi Partai Demokrat itu.

Aksi korporasi melalui restrukturisasi, menurut dia juga merupakan hal biasa, karena korporasi perlu terus berkembang dan harus selalu melakukan transformasi ke arah yang lebih ekspansif serta menguntungkan.

“BUMN hadir selain untuk menjaga hajat hidup orang banyak, Pertamina juga harus melakukan ekspansi menguntungkan dan kemampuan modal. Sehingga dilakukanlah model bisnis baru. Tentu ini jadi prioritas bagi korporasi dan kementerian yang membidanginya,” katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, jika ada anak perusahaan melakukan akselerasi atau pengembangan melalui restrukturisasi merupakan cara dan strategi manajemen.

Menurut Herman, restrukturisasi Pertamina sebaiknya dikembalikan pada internal, para karyawan dan pegawai duduk bersama dengan pihak manajemen untuk mencari solusi terbaik.

sumber: tempo