Herman Khaeron Minta Pemerintah Pastikan Anggaran UMKM Sebesar Rp22 T Harus Tepat Sasaran, DPR, Anggaran, UMKM, Jawa Barat

Herman Khaeron Minta Pemerintah Pastikan Anggaran UMKM Sebesar Rp22 T Harus Tepat Sasaran – Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron meminta agar anggaran Rp 22 triliun yang dikucurkan Pemerintah kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), bukan sekedar penyaluran anggaran semata.

Melainkan juga dapat menyasar kepada pembinaan terhadap pada pelaku dan kelompok sasaran UMKM.

Sebab menurutnya dalam situasi pandemi ini para pelaku usaha diharapkan dapat beradaptasi.

Herman juga mengatakan ukuran keberhasilan dari sebuah anggaran program terletak pada efektivitasnya, sehingga menurutnya pembinaan masyarakat menjadi penting.

“Tapi yang paling penting adalah bagaimana keefektifan pelaksanaan anggaran ini kepada rakyat, apalagi dalam situasi ekonomi seperti ini. Utamanya dalam kondisi ini, yang terjadi adalah persoalan daya beli masyarakat. Sektor produksi apapun kalau daya beli masyarakat turun pasti akan berimbas juga. Dan oleh karenanya situasi yang tidak mudah dan sederhana ini tadi harus diimbangi oleh tingkat kemampuan,” ujar Herman dalam keterangan tertulis nya dikutip redaksi Industry.co.id pada Jumat (28/8).

Politisi Fraksi Partai Demokrat ini menjelaskan bahwa ada sebanyak 80 persen UMKM di Indonesia saat ini terkena imbas pandemi yang disebabkan menurunnya daya beli masyarakat.

Menurutnya hal ini jelas terjadi karena ada perubahan paradigma konsumen di dalam pengadaan barang dan jasa ataupun dalam pemenuhan pangan sehari-harinya akibat terjadinya pandemi Covid-19.

“Oleh karena itu, hal ini harus dicermati. Bukan hanya menyalurkan anggaran yang tentu kami juga paham bahwa itu adalah salah satu cara untuk meningkatkan daya beli, tapi pada sisi lain harus ada upaya untuk meningkatkan kemampuan para pelaku usaha agar bisa beradaptasi terhadap situasi saat ini,” jelas Kang Hero, sapaan akrabnya.

Baca Juga :  DPR RI: Dana Sawit BPDP-KS Harus Jadi Stimulus Supaya Petani Naik Kelas

Ia berharap dengan diberikannya insentif Rp 2,5 juta per UMKM dapat memberikan efek yang signifikan dan berkelanjutan.

“Tetapi kemudian bahwa terjadi deteksi dini atas penyaluran program dan anggarannya yang harus disertai dengan peningkatan kemampuannya ya ini harusnya di-split. Sehingga pembinaan inilah yang bisa memperkuat posisi capitalized mereka di dalam menghadapi situasi apapun,” tutup Kang Hero.

Sumber : https://www.industry.co.id/

Ekonomi Pancasila Diyakini Bisa Atasi Gejolak Harga Pangan

hermankhaeron.info – Komisi IV DPR mengingatkan pemerintah agar kebijakan impor daging kerbau jangan dijadikan alasan pelaku usaha sebagai kesempatan untuk memeroleh keuntungan.

“Saya kira di saat situasi harga (daging sapi) mahal, jangan jadikan pelaku usaha sebagai alasan untuk memasukkan daging mana pun karena masalah harga tinggi,” ujar Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron saat dihubungi Metrotvnews.com di Jakarta, Selasa (12/7/2016).

Selain itu, Indonesia merupakan salah satu negara yang dinyatakan telah bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternaknya. Masuknya daging kerbau dari India yang berstatus belum bebas PMK, dikhawatirkan mencoreng status Indonesia tersebut. Apalagi, tidak mudah untuk mendapatkan status bebas PMK.

“Mendapatkan kepercayaan organisasi Internasional yang menetapkan suatu negara bebas dari PMK itu tidak mudah. Membersihkan PMK dari fisik dan image tidak mudah,” kata Herman.

Oleh sebab itu, ia meminta pemerintah untuk menjaga status Indonesia yang sudah dinyatakan bebas PMK. Hal ini juga bertujuan untuk menghindari dampak kerugian terhadap negara.
“Jangan sampai rugi dalam waktu panjang cuma karena kebelet harga murah,” tuturnya.

Di sisi lain, pemerintah sebaiknya berpikir ulang jika ingin mengintervensi pasar dengan impor daging kerbau. Menurut Herman, pemerintah bisa mengganti dengan daging kambing, ikan, atau daging ayam kampung.

“Tingkatkan daya tarik lokal. Justru tidak pantas mematikan usaha budidaya. Jangan gegabah,” ucap Herman tegas.

Mengenai ketertarikan terhadap daging kerbau, masyarakat di Aceh sangat menyukai daging kerbau. Begitu juga masyarakat Betawi.

“Bali juga bisa saja dimasukkan daging kerbau karena di sana sapi sakral,” kata Herman.

Walau begitu, mayoritas masyarakat masih lebih menyukai daging sapi dibandingkan kerbau. Sebab, daging kerbau memiliki serat lebih besar dibandingkan daging sapi. Tidak hanya itu, makanan olahan daging di Indonesia rata-rata menggunakan daging sapi.

“Sosis, bakso, semuanya kan daging sapi. Tidak mungkin bisa digantikan karena karakteristiknya beda. Maska daging steak jadi daging kerbau,” ucap Herman.

sumber: metro