Komisi VII Kritik Pertamina terkait Penanganan Minyak Tumpah

Wakil Ketua Komisi II DPR, Herman Khaeron menyesalkan nasib perangkat desa yang belum mendapat kepastian untuk diangkat menjadi PNS, sehingga mereka mengancam akan mengepung Istana. Masa pendaftaran Pilpres 2019 pada 4-10 Agustus 2018, akan dimanfaatkan untuk menggelar unjuk rasa.

“Demonstrasi adalah salah satu cara menyampaikan aspirasi, namun jika masih ada ruang-ruang penyampaian aspirasi yang formal, tentu akan lebih baik,” kata Herman yang juga ketua DPP Partai Demokrat dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (4/8).

Ruang-ruang lain itu semisal, dirapatkan kembali secara gabungan dengan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Badan Kepegawaian Negara, dan Kementerian Keuangan.

“Kami siap memfasilitasi pertemuan tersebut di Komisi II DPR,” jelas Herman.

Pada saat kampanye di Bandung, Jawa Barat pada 2014 lalu, Jokowi-JK berjanji mengangkat para perangkat desa menjadi PNS secara bertahap, atau penghasilannya disetarakan dengan PNS golongan IIA. Program ini pun masuk Nawacita. Namun hingga akhir masa pemerintahan Jokowi-JK, janji itu tak kunjung terealisasi.

“Kalau sudah menjadi janji Presiden untuk diangkat menjadi PNS atau penghasilan setara golongan IIA sebaiknya dipenuhi, atau barangkali dengan solusi lain yang sepadan dengan itu,” pinta Herman.

Aksi mengepung Istana Negara, Jakarta, untuk menagih janji Presiden Jokowi itu, kata Ketua Umum Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Mujito, merupakan keputusan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) PPDI di Blora, Jawa Tengah, Senin (16/7), yang dihadiri ratusan pengurus PPDI kabupaten dan provinsi dari seluruh Indonesia.

“Kita akan kepung Istana. Tuntutan kami sederhana, realisaikan janji itu. Kalau terealisasi, berarti Jokowi lanjut dua periode. Kalau tidak, berarti 2019 ganti presiden,” kata Mujito kemarin.

Herman mengaku menghadiri Rapimnas PPDI tersebut. “Saya juga hadir dan saya mencatat dengan baik apa yang menjadi harapan dan tuntutan para perangkat desa, dan bahkan menurut salah seroang direktur di Kemendagri yang menjadi pembicara waktu itu, semuanya direspons secara positif oleh Kemendagri. Saya juga merasa aneh kalau tuntutan ini masih terus berjalan tanpa kepastian, dan tentu ini menjadi catatan khusus bagi saya untuk mengagendakannya di Komisi II DPR,” paparnya.

Dalam pandangan Herman harus segera ada solusi yang terbaik bagi masa depan perangkat desa, karena perangkat desa adalah institusi abdi negara paling bawah sehingga pelayanan mereka kepada rakyat hampir 24 jam, dan melayani berbagai permasalahan rakyat, yang semestinya mendapat hak-hak yang sepadan, semisal honor yang cukup, jaminan kesehatan, dan adanya kepastian atas statusnya.

Ditanya soal rencana demonstrasi di Istana paling lambat sebelum 16 Agustus 2018, karena sehari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, itu adalah saatnya Presiden RI membacakan Nota Keuangan dan Pengantar RAPBN 2019 di depan Sidang DPR RI, Herman hanya menjawab diplomatis, dia siap kawal. [rus]

sumber: rmol

BBM Naik, Pemerintah Diminta Transparan kepada Rakyat

Ketua DPP Partai Demokrat Herman Khaeron menegaskan, dukungan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terhadap Prabowo Subianto pada Pilpres 2019 mendatang, telah membawa dampak positif.

“Pasti dapat mendongkrak suara capres dan cawapres yang diusungnya,” kata Herman saat dihubungi di Jakarta, Rabu (1/8/2018).

Dia pun membantah adanya isu diluaran yang menyatakan sikap SBY tak berpengaruh kepada elektabilitas Prabowo.

Pasalnya, SBY yang sudah menjadi Presiden ke-6 selama dua periode pasti memiliki jaringan untuk bisa memenangkan mantan Danjen Kopassus tersebut.

“Masing-masing punya jaringan dan pemilihnya Apalagi pak SBY selama menjadi presiden 2 periode banyak berbuat untuk rakyat dan dirasakan kehadirannya, tentu masih diingat dan dicintai rakyat,” jelasnya.

“Pak SBY mengatakan bahwa akan turun gunung demi memperbaiki kehidupan masyarakat kedepannya,” tegasnya.(yn)

Jadi Pimpinan Komisi II, Herman Khaeron Siap Kawal Pemilu 2019

Wakil Ketua DPR RI bidang Korpolkam Fadli Zon menetapkan Herman Khaeron sebagai Wakil Ketua Komisi II DPR RI menggantikan teman sejawatnya dari Fraksi Partai Demokrat, yaitu Fandi Utomo. Sebelumnya, Herman menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR RI.

Usai ditetapkan sebagai Wakil Ketua Komisi II DPR RI, dan secara simbolis diberikan palu sidang, Herman mengatakan siap mengawal penyelenggaraan pemilihan umum (Pemilu), baik Pemilihan Legislatif (Pileg) maupun Pemilihan Presiden (Pilpres) di tahun 2019 nanti.

“Di tahun politik ini, saya akan mengawal persiapan menuju pemilihan umum, baik Pileg maupun Pilpres, supaya berjalan dengan aman, jujur dan adil. Kami akan membentuk situasi dan suasana pemilu yang kondusif bagi kemajuan bangsa ke depan,” jelasnya di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (26/7/2018).

Selain itu, masih banyak PR yang harus ia laksanakan di Komisi II DPR RI, salah satu yang ia menyoroti mengenai Dana Desa, bagaimana desa bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, dengan keberadaan payung hukum, yaitu Undang-Undang Desa.

Kemudian, masalah konflik sosial atau masalah agraria juga turut menjadi perhatiannya. “Tentunya tata ruang wilayah ini juga harus dirumuskan secara baik, secara benar, didudukkan kepada tahap-tahap sistematis untuk merumuskan bagaimana supaya diujungnya tidak terjadi konflik,” jelasnya.

Namun, untuk menyelesaikan PR- PR itu Herman akan terus belajar menganalisa serta bertanya dengan teman terlebih dahulu di Komisi II DPR RI. “Saya akan segera menyesuaikan diri dan mengeksplor bagaimana sesungguhnya kebijakan di Komisi II DPR RI,” tutupnya. (rnm/sf)

sumber: dpr.go.id

Ini Cara Herman Khaeron dalam Menjaga Suara Konstituen

Wakil Komandan Kogasma Partai Demokrat, Herman Khaeron menegaskan bahwa kegiatan tatap muka politikus dengan para pemilik suara atau konstituen memiliki nilai yang sangat signifikan.

“Saya yakin tatap muka merupakan bagian terpenting,” kata Herman di kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Selasa, (17/7/2018).

Dengan tatap muka yang semakin sering, ujar Herman, sudah tentu akan menimbulkan kesan mendalam di hati konstituen.

“Semakin sering kita tatap muka, akan semakin ingat mereka dengan kita,” tuturnya.

Herman juga mengakui bahwa setiap kali tatap muka dengan konstituen harus diakhiri dengan sesuatu yang berkesan.

“Yang kita hadapi di lapangan juga terberat adalah pragmatisme. Jadi perlu ada yang kita berikan. Bisa kaos, bisa mug atau sesuatu yang berkesan dan membuat mereka teringat kepada kita,” ujarnya.

Hal lain yang juga menurut Herman agar dipilih konstituen adalah sikap saling memghormati sesama calon legislatif dari satu partai.

“Tetapi kita kan juga harus bersaing dengan caleg dari satu partai. Tetapi harus diperhatikan jangan sampai kita bertarung dengan teman, sahabat kita di dalam partai. Karena kalau kita bertarung dengan teman sendiri, kondisi ini justeru akan dimanfaatkan oleh caleg dari partai lain,” jelas Herman.

Meski demikian, Herman memastikan bahwa dalam dua periode dirinya duduk di Senayan merupakan takdir dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Menjadi Anggota DPR RI itu merupakan karena Allah. Itu faktor utama,” tandas Herman.

sumber: tribun

Diskusi Taman Politik Demokrat S14P Menangkan Pemilu 2019

Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat (DP-PD) kembali menggelar Diskusi Taman Politik. Kali ini diskusi mengambil topik “Caleg Demokrat S1AP Pileg 2019” digelar di Kantor Pusat Demokrat, Wisma Proklamasi 41, Menteng, Jakarta, Selasa petang, 17 Juli 2018.

Hadir sebagai pemateri: DR. Herman Khaeron (Anggota FPD DPR RI 2 periode), Neneng Hasanah (DPRD DKI, 2 Periode Berjalan), dan Jane Shalimar (caleg untuk Kota Depok). Acara dipandu Wakil Sekjen Demokrat Ramadhan Pohan.

Diskusi ini bertujuan agar masyarakat memahami lika-liku pencalegan. Para narasumber membedah dan mengulas pengalaman dan upayanya merebut hati rakyat di Dapilnya. Narasumber berbagi pengalaman dan pengetahuan hingga bisa lolos menjadi legislator.

Herman Khaeron, yang akrab disapa Kang Hero, mengatakan ia terpilih sebagai Anggota DPR-RI faktor utamanya adalah ketetapan Allah SWT; Tuhan Yang Maha Kuasa.

Faktor lainnya adalah Demokrat memiliki figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Politik adalah persepsi sehingga ketika masyarakat merasa kepemimpinan SBY sangat baik maka berimbas positif kepada partai yang didirikannya.

Hal lainnya, Kang Hero turun total ke lapangan. Terutama ketika Demokrat dihantam badai besar saat oknum-oknum kader utama terlibat kasus korupsi.

Di lapangan, Kang Hero menghabiskan waktu dengan para konstituennya. Ia juga menyebarkan alat peraga sangat banyak agar masyarakat lebih mengenal sosok dan programnya. Ia pun terus mengabarkan bahwa Pemerintahan SBY (penggagas-pendiri Demokrat) telah menjalankan begitu banyak program pro-rakyat. Mulai BPJS, Bantuan Operasional Sekolah, Beras Miskin, Program Keluarga Harapan, Bantuan Langsung Tunai hingga belasan program pro-rakyat lainnya.

Karenanya Kang Hero mengajak hadirin untuk menyosialisasikan figur brilian Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Saat ini AHY adalah ikon Demokrat. Dengan segala prestasinya AHY telah sangat siap memimpin bangsa ini.

Para kader, anggota, simpatisan Demokrat dan masyarakat umum yang menghadiri diskusi tersebut terlihat sangat tertarik dengan topik tersebut. Hadirin tak henti bertanya dan berbagi pengalaman.

Di akhir diskusi hadirin optimistis jika para calon legislatif bekerja keras maka, atas izin Tuhan, bisa memenangkan kompetisi Pemilihan Langsung Legislator (Pileg) 2019.

Hadir dalam acara tersebut Anggota Dewan Pembina DPP-PD Prof Dr Ahmad Mubarok, Wakil Ketua Umum DPP-PD Letjen (Purn) Cornel Simbolon, Caleg DPR dari Demokrat Laksdya (Purn) Dr. Desi Albert Mamahit, Wakil Ketua BPOKK DPP-PD Sarjan Thaher,
Ketua Departemen UKM DPP-PD Subur Sembiring, Sekdiv Diklat DPP-PD Agustinus Tamo Mbapa,  Ketua FPD Jakarta Taufiqurrahman dan para kader lainnya.

sumber: demokrat.or.id

Akses masyarakat mendapatkan energi untuk menunjang kehidupannya dinilai masih kurang. Kondisi ini, disebabkan belum adanya infrastruktur yang menunjang aksebilitas masyarakat terhadap energi.

“Di Indonesia ini, belum tercipta keadilan energi bagi seluruh rakyat. Selama ini, pembangunan infrastruktur di bidang energi ini tidak diproritaskan,” ujar Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Herman Khaeron usai menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Pengembangan Infrastruktur Jaringan Gas Bumi untuk Rumah Tangga Mendukung Terwujudnya Ketahanan Energi Nasional, di Wisma Perusahaan Gas Negara (PGN), Jalan Serang, Kota Bandung, Jumat (29/6).

Khaeron menilai, belum dibangunnya infrastruktur energi ini akan menimbulkan masalah dan beban di kemudian hari jika tidak diantisipasi sedini mungkin. Sebaiknya, seiring dengan perkembangan jalan, maka infrastruktur energi juga harus selaras agar distribusi energi tersalurkan.

sumber : jabarekspres

Ketegasan Menteri Jonan 'Ancam' Prancis Didukung Komisi VII DPR

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendesak agar pemerintah segera menunjuk Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) secara definitif. Ini karena sejak Elia Massa Manik dicopot akhir April lalu, Pertamina hanya dipimpin seorang Pelaksana tugas (Plt). Padahal kewenangan Plt tidak cukup luas.

Menurut Anggota Komisi VII DPR Kurtubi, penunjukan Direktur Utama secara definitif itu penting agar kinerja perusahaan tidak terhambat. Apalagi, ke depan, Pertamina memiliki beberapa penugasan seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) Satu Harga dan blok minyak dan gas bumi (migas) terminasi. “Wewenang pelaksana tugas bersifat terbatas,” kata dia kepada Katadata.co.id, Kamis (17/5).

Jika pemerintah menilai Pelaksana tugas Direktur Utama Pertamina saat ini, yakni Nicke Widyawati sudah tepat, Kurtubi meminta agar segera dilantik menjadi definitif. Namun,  jika kurang cocok, pemerintah segera mengangkat direktur definitif lainnya.

Sementara itu, Kurtubi menilai Direktur Utama Pertamina yang baru sebaiknya mengerti sektor minyak dan gas bumi (migas) dan dari internal. “Sebaiknya bukan orang yang baru sama sekali yang butuh waktu untuk belajar. Sebaiknya orang dalam yang mengerti industri hulu dan hilir migas,” kata dia.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Herman Khaeron juga meminta pemerintah segera menetapkan Direktur Utama Pertamina definitif. Ini penting untuk memberikan kepastian terlebih keputusan strategis seperti pengembangan investasi yang tidak bisa dilakukan Plt.

Menurutnya di aturan perusahaan BUMN telah diatur mengenai batas-batas deskripsi kerja yang bisa dilakukan Plt Direktur Utama. Alhasil, ruang gerak mereka juga tidak besar.

Khawatirnya, jika pengambilan keputusan Plt tidak sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi), dapat berbuntut kasus hukum. “Bahkan jika tidak sesuai dengan job description-nya, bisa saja pengambilan keputusan berurusan dengan aparat penegak hukum, kecuali jika Plt saat ini diberi kewenangan penuh oleh dewan komisaris dan pemerintah,” kata Herman.

Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito menyerahkan keputusan penunjukan Direktur Utama definitif kepada pemegang saham. ” Mestinya tanya ke pemegang saham (Menteri BUMN),” kata dia.

Adapun, Menteri BUMN Rini Soemarno resmi mencopot Elia Massa Manik dari Direktur Utama Pertamina 20 April 2018. Elia tercatat baru 13 bulan menjabat sebagai orang nomor satu di Pertamina itu. Posisi Elia kemudian ditempati Nicke Widyawati sebagai Pelaksana tugas dan sekaligus menjabat sebagai Direktur Sumber Daya Manusia (SDM).

sumber: katadata

DPR: Pemerintah Belum Mengajukan APBN Perubahan

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Herman Khaeron mengatakan pemerintah belum meminta pertemuan khusus dengan DPR untuk membahas tambahan subsidi solar. Hal ini sejalan dengan pemerintah yang juga belum mengusulkan tambahan APBN melalui skema APBN Perubahan pada masa sidang baru ini.

Herman menjelaskan semula DPR memang mengimbau pemerintah agar membahas penambahan subsidi solar kepada DPR. Sebab, Solar sendiri merupakan BBM yang sistem pembayaran disubsidi menggunakan APBN yang perlu meminta pertimbangan DPR.

“Tidak ada agenda khusus yang membahas tambahan solar,” ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (20/5).

Hanya saja, Herman mengatakan meski tak spesifik, masa sidang kali ini memang akan banyak membahas terkait anggaran 2019 mendatang. Ia mengatakan, mungkin saja pembahasan tambahan subsidi solar bisa dilakukan paralel dengan pembahasan anggaran 2019.

“Masa sidang ini siklus membahas anggaran 2019, baik untuk setiap KL maupun asumsi dasar makro. Jadi bisa paralel. Pemerintah juga sepertinya belum mengajukan APBN P,” kata Herman.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka opsi menambah subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar menggunakan cadangan devisa. Tujuannya agar proses penyaluran subsidi lebih cepat.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syarial mengatakan jika menggunakan mekanisme Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) proses penambahan subsidi akan memakan waktu.Untuk itu, opsi supaya penambahan subsidi BBM, khususnya Solar bisa cepat adalah dengan menggunakan cadangan devisa.

“Itu salah satunya. Kalau yang Kementerian Keuangan nanti mekanismenya lihat seperti apa,” ujar Ego akhir pekan lalu.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan besaran subsidi yang diajukan ke Kementerian Keuangan mencapai Rp 1.500 per liter dari sebelumnya yang ada di APBN sebesar Rp 500 per liter.

Tambahan subsidi ini karena pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga BBM jenis Premium dan Solar hingga tahun 2019. Bahkan sejak April 2016, harga dua komoditas itu juga tidak berubah. Harga Solar Rp 5.150 per liter dan Premium Rp 6.450 per liter.

sumber: republika