Wakil Ketua Komisi IV: Rehabilitasi Fungsi Hutan Itu Wajib

hermankhaeron.info – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron mengatakan bahwa banjir bandang yang terjadi di Garut bukan hanya musibah saat ini. Tapi menurut Herman sejak tahun 1909 sebetulnya peringatan lokasi banjir sudah ada.

“Pemerintah Belanda waktu itu sudah mengingatkan potensi ketika itu akan banjir, bahkan sudah terjadi banjir. 1970 yang memerintahkan Solihin GP pernah menanam pohon yang mana dulu Garut ahli fungsi kawasan tersebut sangat kuat. Hutan lindung yang dulu jadi penyangga sekarang berubah fungsi,” ujarnya di Senayan, Rabu 5 Oktober 2016.

Herman menilai, kerusakan bukan terjadi di hulu sungai Cimanuk. Tapi ada di lima sub sungai Cimanuk.

“Kita prihatin atas kejadian itu. Kemarin kami Komisi IV rapat respon masalah itu, penertiban yang menjadi daerah penyangga,” ujar politisi Demokrat ini.

Herman menegaskan, rehabilitasi fungsi hutan itu wajib, terkait persoalan pembangunan rusun sudah ada yang lama namun tidak dihuni.

“Kalau PUPR hanya konsentrasi normalisasi tidak akan mampu memberikan solusi permasalahan ini. Bahkan pada waktu 2011 curah hujan tinggi mengakibatkan banyak jembatan di Sumedang ambruk, arus air yang begitu deras,” ujarnya.

sumber: vivanews

hermankhaeron.info – Bandeng merupakan komoditi yang layak untuk diperhatikan pemerintah. Ini karena komoditas tersebut dianggap mampu menopang ketahanan pangan nasional. Berdasarkan penelitian para ilmuwan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 2006, mencatat kandungan omega 3 bandeng dengan salmon disebut sebut lebih unggul bandeng perbandingannya 14,20 banding 2,60 persen.

Menurut Slamet Soebijakto, dirjen Perikanan Budidaya KKP, Indonesia memiliki area budidaya tersebar di tambak, KJA. Indonesia pun dikenal sebagai penghasil nener (benih bandeng) terbesar dunia, tiap hari 4 juta nener diekspor ke Filipina dan Taiwan. Khusus ari Bali bisa mencapai 1.5 miliar ekor per tahun.

Lebih lanjut dia mengatakan, produksi bandeng masuk dalam tiga komoditi terbesar di tanah air. Nila, lele dan bandeng masuk dalam fokus perhatian pemerintah karena menjadi ketahanan pangan nasional. Produksi bandeng 2015 mencapai 668,262 ton dengan nilai mencapai Rp 10.023 miliar. Tahun ini ditargetkan budidaya bandeng mencapai 720 ribu ton.

”Tiga Provinsi produsen bandeng terbesar selama ini dihasilkan oleh Jawa Timur (Jatim) produksinya mencapai 20.79 persen, lalu Sulawesi Selatan (Sulsel) 18.89 persen, dan Jawa Barat (Jabar) sekitar 14.71 persen,” ujar dalam workshop Perbandengan Nasional.

Langkah strategis dan fokus kegiatan dalam pengembangan industri bandeng nasion adalah salah satunya penyediaan bahan baku meliputi bibit dan induk unggul, pakan mandiri. “Lewat balai-balai yang kita miliki kami tengan menggenjot bibit dan induk unggul. Selama ini bibit unggul milik swasta di jual keluar negeri, dan kualitas nomor dua nya di budidayakan di dalam negeri,” ujarnya.

Hal itu juga yang membuat produksi bandeng di tanah air, lanjut Slamet, kalah dengan Filipina dan Taiwan. Ironisnya, benih dikirim dari Indonesia. “Kami juga menfasilitasi pembudidaya ke sektor perbankan untuk pembiayaan” tutup Slamet.

Rokhmin Dahuri, pendiri Masyarakat Akuakultur Indonesia mengatakan, peluang usaha bandeng tanah air sangat tinggi. Ini mulai dari produk olahan yang sangat diminati di dalam negeri, ekspor nener sampai sebagai umpan penangkapan tuna yang menggunakan alat tangkap huhate atau pole and line. “Untuk alat tangkap ini umpan yang digunakan adalah bandeng dengan ukuran 7-8 gram per ekor atau 100 – 150 ekor perkilogram,” terangnya.

Sementara untuk serapan pasar paling besar ditingkat rumah tangga mencapai 352.718 ton pertahun. Teknologi budidaya di dalam negeri masih tradisional dan semi intensif. Untuk tradisional diterapkan sebagian besar pembudidaya dengan hasil rata-rata 500 kg sampai dengan 1 ton per hektare (ha) per tahun. Sementara semi intensif bisa menghasilkan 3 ton per ha pertahun. “Tapi untuk semi intensif masih diterapkan sebagian kecil pembudidaya tanah air,” katanya.

Herman Khaeron, anggota DPR mengatakan, pemerintah memang harus konsisten untuk kebijakan yang dibuat. Pemerintah perlu diperbanyak pembudidaya bandeng di KJA laut dan Pen Culture agar kualitas lebih baik. Beberapa provinsi yang membutuhkan bantuan bibit nener atau bangun Pembenihan harus difasilitasi. “Kehadiran pemerintah sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan produksi dan industrialisasi bandeng. Untuk anggaran kami siap mengawal untuk kesejahteraan nelayan dan pembudidaya,” ujarnya.

Workshop Perbandengan Nasional diikuti oleh stakeholder 50 orang baik hulu ke hilir. Pada kesempatan tersebut lebih dari 10 poin penting yang harus dikerjakan segera. Ini meliputi masalah regulasi ketetapan harga nener bandeng yang murah sehingga merugikan petani. Masalah ekspor nener, eksportir tidak kompak sehingga harga rendah ditempat tujuan, lalu kualitas nener perlu diperbaiki. Selain itu bandeng hasil produksinya kualitas rendah, bau lumpur, perlu dicarikan solusinya.

hermankhaeron.info – Presiden ke-6 Republik Indonesia,  DR.H. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melakukan panen perdana buah mangga gedong gincu di Desa Sedong Lor Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. SBY ditemani istri, Ani Yudhoyono.

SBY mengungkapkan ada beberapa alasan kenapa dirinya bersama istri mau datang dan melakukan panen perdana di lahan seluas 25 hektar milik Kelompok Tani Buah (KTB) Sukamulya tersebut. Satu diantaranya karena dirinya sangat menyukai jenis buah yang banyak ditemui dan tumbuh di daerah Cirebon, Indramayu dan Majalengka ini.

“Saat saya masih menjabat presiden, buah mangga ini selalu ada terutama ketika menjamu tamu kenegaraan,” kata pendiri Partai Demokrat ini.

Didampingi anggota DPR-RI, DR H Herman Khaeron, SBY pun memberi alasan lainnya, yakni dirinya sangat menghargai dan mengapresiasi kegigihan petani mangga yang dengan tekun terus mengembangkan tanaman mangga hingga sampai ekspor ke sejumlah negara asia dan timur tengah tersebut.

“Tempo hari saat berkunjung ke Singapura saya baru tahu bahwa kebutuhan buah-buahan disana membutuhkan ribuan ton buah. Dan saya ketahui juga bahwa sangat sedikit sekali suplai (eksport) buah dari Indonesia, karena itulah waktu itu saya minta kepada Dubes untuk mengambil peluang itu dengan meniventarisir dan kerjasama dengan para petani buah agar buah-buah dari Indonesia dapat masuk kesana (Singapura,red),” tegasnya.

Menurut SBY, pertumbuhan penduduk dunia kini sudah mencapai 7,3 milyar, Jumlah itu akan meningkat terus dari tahun ke tahun. Banyaknya jumlah penduduk itu jelas membutuhkan makanan untuk tetap hidup, dan satu diantaranya adalah kebutuhan akan buah-buahan.

“Untuk itulah sangat diperlukan sekali inovasi dan pengembangan produksi buah-buhanan,” tegasnya.

hermankhaeron.info – Kebijakan Pemerintah via Kementerian Pertanian yang memutuskan untuk mengimpor daging sapi kategori secondary cut dan jeroan mengundang kritikan pedas dari sejumlah tokoh politik. Impor yang dilakukan untuk menekan harga daging sapi yang tak kunjung turun dinilai sejumlah tokoh sebagai bentuk merendahkan martabat bangsa. Anggota DPR RI dari komisi IV, Herman Khaeron mengkritisi langkah pemerintah  sebagai bentuk yang merugikan konsumen, impor daging jenis jeroan adalah bentuk kebijakan yang merendahkan martabat masyarakat dan bangsa Indonesia. Sebab, jeroan di negara-negara Eropa justru untuk pakan binatang, dan tidak layak konsumsi untuk manusia.

Hero sapaan akrab Herman Khaeron  menilai, impor daging jenis jeroan merugikan konsumen, karena kandungan residu hormon pada jeroan sapi di negara yang membolehkan budidaya sapi dengan hormon sangat tinggi. Sehingga, tidak layak untuk konsumsi, karena membahayakan kesehatan manusia.

“Di beberapa negara, jeroan sapi bahkan diperlakukan sebagai sampah, dan ekspor jeroan sapi hanya untuk keperluan konsumsi non manusia. Jadi, silahkan pemerintah impor jeroan, tetapi bukan untuk konsumsi manusia,” ujarnya,saat dikonfirmasi KC Senin,  (18/7/2016). Impor jeroan sapi, lanjut Hero berpotensi menimbulkan masalah bagi konsumen, antara lain pertumbuhan tidak normal akibat kandungan hormon yang tinggi. “Pemerintah jangan mengalihkan ketidakmampuannya menurunkan harga daging sapi dengan cara impor jeroan, Karena hal ini sangat  membahayakan kesehatan manusia,” katanya Lanjutnya Hero juga menegaskan, mengimbau masyarakat untuk tidak membeli atau mengonsumsi jeroan sapi yang berasal dari impor. (sal/KC)

sumber: kabar-cirebon

Mengembalikan Kejayaan Kopi Jawa Barat

hermankhaeron.info – Jerih payah petani kopi Jawa Barat kini berbuah manis. Mereka tidak hanya mampu menghidangkan kopi yang nikmat, tetapi juga berhasil membawa pulang warga rantau hingga mengharumkan nama Indonesia.

Suhu rumah kaca berbahan plastik tebal di Kampung Kolelaga, Desa Pasirmulya, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mencapai 40 derajat celsius, Senin (23/5/2016) siang.

Namun, Ayi Sutedja (51), petani kopi sekaligus pemilik rumah kaca tidak terganggu. Berbaju hitam lengan panjang, ia tekun membolak-balik biji kopi arabika yang terhampar di rak bambu beralas jaring plastik.

“Tahun lalu, biji dari pohon yang sama laku dilelang 55 dollar AS di Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo di Amerika Serikat,” katanya.

Dalam lelang kopi terbesar di Amerika Serikat, kopi gunung puntang milik Ayi mendapat nilai uji cita rasa 86,25. Beragam aroma buah tropis, sedikit asam, hingga manis di akhir seruputan membuat kopi itu menjadi yang terbaik di antara 17 jenis kopi spesial Indonesia.

Kopi gunung puntang sebelumnya nyaris tak terdengar. Kopi ini ditanam di lembah antara Gunung Puntang dan Gunung Tilu di Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Namanya tenggelam di antara kopi sumatera, papua, bali, hingga sulawesi. Lima tahun lalu, Ayi bahkan masih bekerja sebagai kontraktor listrik.

Ayi mengatakan, tradisi menanam kopi sudah lama dilakukan warga setempat. Namun, karena pembelian tengkulak yang hanya Rp 2.500 per kilogram, petani tidak bergairah menanam. Kopi hanya menjadi tanaman selingan atau sekadar tanaman pagar.

Pertemuannya dengan petani kopi dan pembibit lokal di kaki Gunung Puntang pada 2011 menjadi awal perjalanannya. Punya hobi naik gunung, Ayi yakin kopi tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga lingkungan.

Lewat buku dan masukan dari petani kopi lain, ia belajar otodidak menanam kopi buhun (tua) dari lereng Gunung Guntur, Garut. Untuk mendapatkan hasil terbaik, ia menanam 1.000 pohon per hektar agar bisa dipanen 1-2 kg per pohon.

Ayi juga tak menggunakan pupuk kimia. Pohon pelindung berakar kuat seperti avokad hingga jambu ditanam melindungi kopi dari terik sinar matahari. Pola itu mencegah longsor di kawasan yang dulu ditanami sayuran.

“Saat panen pertama atau empat tahun setelah ditanam, kopi ini memberi kesejahteraan petani dan melindungi lingkungan sekitar,” kata Ayi.

Kejayaan masa lalu

Sukses kopi Jabar ini seperti mengulang kejayaan masa lalu. Ditanam sejak 1699, hasil penjualannya ke Eropa. Saking tenarnya, kopi Jabar pernah dikenal di Eropa dengan nama A Cup of Java (Secangkir Kopi dari Jawa). Namun, pada pertengahan 1800-an, kopi di Jabar banyak mati karena serangan hama karat daun.

Namanya baru muncul lagi sekitar 1997 saat beberapa perkebunan kecil kembali muncul. Pada 2012, kopi Jabar kembali diekspor ke Eropa. Data Dinas Perkebunan Jabar mencatat, dalam kurun waktu 2012-2015, ekspor biji kopi mencapai 187 ton dengan nilai 1,3 juta dollar AS. Keinginan belajar para petaninya menjadi salah satu kunci sukses itu.

Ayi tidak sendirian. Ada 113.766 petani Jabar yang menggarap kopi di lahan seluas 32.000 hektar. Salah satunya Wildan Mustofa (49), petani kopi di Bandung Barat.

Setahun terakhir, ia berharap besar pada kopi yang diberi nama Frinsa. Berasal dari enam pohon kopi, kopi itu diduga antara jenis sigararuntang dan jenis kopi lain yang awalnya ditemukan tumbuh liar.

“Setelah dirawat, hasil panen Frinsa sekitar 2 kg per pohon. Kualitasnya teruji saat menjadi yang terbaik dalam Lomba Kopi Unggul Nasional 2015 di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jawa Timur,” katanya.

Wildan juga memulainya dari dasar, empat tahun lalu. Ia menjelajahi beberapa daerah penghasil kopi Nusantara. Dari Sumatera Utara, ia yakin jenis sigararuntang cocok ditanam di Gunung Halu. Kopi ini baik ditanam di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut dan memiliki curah hujan tinggi.

Dari Bali, ia menemukan kekuatan jenis kopyol. Kopi ini bisa tumbuh di bawah kanopi pohon rindang. Cara itu menjadi solusi terbaik menanam kopi tanpa menebang pohon besar yang sudah ada sebelumnya di kawasan itu.

Ilmu baru itu lantas ia terapkan di kebun miliknya di Mekarwangi dan Weninggalih, di Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat. Hasilnya memuaskan. Panen kopi di dua kebunnya berhasil menjadi terbaik kedua dan ke-17 dalam SCAA 2016.

“Jelas bangga memiliki kopi berkualitas dunia. Namun, melihat warga sekitar kebun hidup sejahtera dan guyub itu jauh lebih bahagia,” kata Wildan yang kini dibantu sekitar 50 warga sekitar kebun.

Salah seorang warga yang merasakan nikmat itu adalah Hamim (44), warga Kampung Pasanggrahan, Desa Weninggalih. Saat kopi memperbaiki kebutuhan ekonominya, ia lebih peduli pada orang sekitarnya.

Tahun ini ia punya kesibukan baru. Kini, Hamim terbiasa melahap jarak 30 km dari rumahnya mengantar tetangga yang sakit ke Rumah Sakit Cililin. Tak hanya itu, ia juga membantu tetangganya mengurus pendaftaran hingga administrasi pembayaran.

“Dulu hidup saya terlalu berat. Tak terpikir untuk menolong,” kata Hamim yang tinggal sekitar 1 km dari kebun kopi Weninggalih.

Dibayar murah

Ingatan Hamim kembali pada kenangan sekitar 20 tahun lalu saat merantau ke Jakarta. Lulusan SMP ini hanya diterima bekerja sebagai buruh bangunan. Kerjanya berat, tetapi dibayar murah. Penghasilan tertingginya hanya Rp 30.000 per hari.

Harapan itu terbuka saat Wildan membuka kebun kopi di Sindangkerta pada 2011. Ia nekat pulang kampung menjadi pengangkut panen kopi. Pendapatannya kini lebih baik. Saat panen, ia bisa mendapat penghasilan 10 kali lipat lebih besar ketimbang menjadi buruh bangunan.

“Kopi memberi saya hidup sejahtera. Saya bisa membuat rumah baru senilai Rp 45 juta dan biaya memasukkan anak ke SMA,” katanya.

Kopi memacu semangat Jajat (25), warga Kolelaga, belajar ilmu baru di kebun kopi milik Ayi. Lama menjadi buruh bangunan dengan upah Rp 25.000 per hari, ia kini terbiasa memilah dan mencuci biji kopi petik merah.

Tangan yang dulu terbiasa mencangkul atau mengaduk semen kini telaten memilah kopi terbaik. Jajat kini tengah belajar teknik pembuatan biji beras kopi hingga menanam pohon kopi dari Ayi. (Cornelius Helmy).

sumber: kompas

Ini Dia Potensi Peternakan di Jawa Barat

hermankhaeron.info – Potensi Peternakan di Jawa Barat – Hewan ternak unggulan di Jawa Barat didominasi oleh sapi potong, sapi perah, kerbau, kuda, kambing, domba, babi, ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras pedaging, dan itik. Pada tahun 2013, populasi sapi potong sebanyak 382.949 ekor atau turun 10.87 persen dibanding tahun 2012 yaitu sebanyak 382.949 ekor. Populasi sapi perah turun sebesar 23,68 persen dari tahun 2013 sebanyak 136.054 ekor menjadi 103.832 ekor pada tahun 2012. Pertumbuhan  populasi domba pada tahun 2013 sebesar 18,20 persen, ayam buras 17,99 persen, kambing 11,13 persen, ayam ras petelur 4,97 persen, ayam ras pedaging 4,93 persen dan populasi itik turun sebesar 5,50 persen.

Populasi sapi perah di Jawa Barat terutama dikembangkan di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung, masing-masing sebesar 25,41 persen dan 33,23 persen dari total populasi sapi perah di Jawa Barat, pengembangan sapi potong terbesar terdapat di Kabupaten Tasikmalaya sebesar 11,19 persen dan Kabupaten Bogor sebesar 8,61 persen. Untuk ternak domba, daerah pengembangan terdapat di Kabupaten Karawang sebesar 30,27 persen dari total populasi ternak domba, dan Kabupaten Purwakarta sebesar 16,65 persen.

Daerah pengembangan ternak ayam ras petelur adalah Kabupaten Bogor sebanyak 38,44 persen dari total populasi ayam ras petelur di Jawa Barat, dan Kabupaten Sukabumi serta Kabupaten Cianjur masing-masing sebesar 17,99  persen dan 10,98 persen. Sedangkan untuk ternak itik, daerah yang memiliki populasi terbanyak adalah Kabupaten Karawang dan Kabupaten Indramayu, masing-masing sebesar 24,303 persen dan 19,12 persen dari total populasi itik di Jawa Barat.

Sumber: http://Pusdalisbang.jabarprov.go.id

Potensi Seni dan Budaya di Jawa Barat

Silih Asah
Silih Asih
Silih Asuh

hermankhaeron.info – Potensi Seni dan Budaya di Jawa Barat –  Kata-kata puitis diatas bukan sembarangan puisi, melainkan sebagai filsafat hidup yang dianut mayoritas penduduk Jawa Barat. Filosofi ini mengajarkan manusia untuk saling mengasuh dengan landasan saling mengasihi dan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Sejatinya, inilah suatu konsep kehidupan demokratis yang berakar pada kesadaran dan keluhuran akal budi, yang akar filsafatnya menusuk jauh ke dalam bumi dalam pengertian hafiah. Berbeda dengan peradaban masyarakat lain di Nusantara, peradaban masyarakat Jawa Barat yang berpenduduk asli dan berbahasa Sunda sangat dipengaruhi oleh alam yang subur dan alami. Itulah sebabnya, dalam interaksi sosial, masyarakat di sana menganut falsafah seperti di kutip di atas.

Selain akrab dengan alam lingkungan dan sesama manusia, manusia Sunda juga dekat dengan Tuhan yang menciptakan mereka dan menciptakan alam semesta tempat mereka berkehidupan (Triangle of life). Keakraban masyarakat Sunda dengan lingkungan tampak dari bagaimana masyarakat Jawa Barat, khususnya di pedesaan, memelihara kelestarian lingkungan. Di provinsi ini banyak muncul anggota masyarakat yang atas inisiatif sendiri memelihara lingkungan alam mereka.

Keakraban masyarakat Jawa Barat dengan Tuhan, menyebabkan masyarakat di sana relatif dikenal sebagai masyarakat yang agamis, relijius, yang memegang teguh nilai-nilai ajaran agama yang mereka anut yakni agama Islam sebagai agama dengan penganut terbesar, kemudian Kristen (Katolik dan Protestan), Hindu, Budha, dan lainnya. Kendati demikian, dalam proses kehidupan sehari-hari, masyarakat Jawa Barat relatif terbuka saat berinteraksi dengan nilai-nilai baru yang cenderung sekuler dalam suatu proses interaksi dinamis dan harmonis. Peningkatan kualitas kehidupan dan kerukunan umat beragama tergambarkan dengan meningkatnya sarana peribadatan. Jumlah Mesjid meningkat dari 43.005 buah pada tahun 2004 menjadi 50.339 buah pada tahun 2005, Gereja Kristen dari 1.536 buah menjadi 1.629 buah, Gereja Katolik/Kapel dari 50 buah menjadi 110 buah, Pura/Kuil/Sanggah dari 24 buah menjadi 25 buah dan Vihara/Cetya/Klenteng dari 171 menjadi 181 buah.

Budaya Jawa Barat didominasi Sunda. Adat tradisionalnya yang penuh khasanah Bumi Pasundan menjadi cermin kebudayaan di sana. Perda Kebudayaan Jawa Barat bahkan mencantumkan pemeliharaan bahasa, sastra, dan aksara daerah, kesenian, kepurbakalaan dan sejarahnya, nilai-nilai tradisional dan juga museum sebagai bagian dari pengelolaan kebudayaan. Pariwisata berbasis kebudayaan yang menampilkan seni budaya Jawa Barat, siap ditampilkan dan bernilai ekonomi.
Untuk melestarikan budaya Jawa Barat, pemerintah daerah menetapkan 12 desa budaya, yakni desa khas yang di tata untuk kepentingan melestarikan budaya dalam bentuk adat atau rumah adat. Desa budaya tersebut adalah sebagai beikut:

  1. Kampung Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung;
  2. Kampung Mahmud, Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung;
  3. Kampung Kuta, Desa Karangpaninggal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis;
  4. Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi;
  5. Kampung Dukuh, Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut;
  6. Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut;
  7. Kampung Adat Ciburuy, Desa Palamayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut;
  8. Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya;
  9. Kampung Urug, Desa Kiarapandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor;
  10. Rumah Adat Citalang, Desa Citalang, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta;
  11. Rumah Adat Lengkong, Desa Lengkong, Kecamatan Garangwangi, Kabupaten Kuningan;
  12. Rumah Adat Panjalin, Desa Panjalin, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka.

sumber : jabarprov

hermankhaeron.com – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron (kiri) bersama Direktur Bulog Wahyu dan Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan RI Gardjita Budi (kanan)tampil sebagai pembicara dalam diskusi dialektika Demokrasi bertajuk “Stabilitas Harga Pangan” di Gedung DPR RI Jakarta, Kamis (23/6/2016).

Herman Khaeron mengatakan jika Presiden Jokowi berkeinginan mengembalikan Badan Urusan Logistik (Bulog) seperti semula. Yaitu yang mengendalikan 11 komiditas pangan. Baik stabilitas harga, ketersediaan, keterjangkauan, distribusi, bahkan produksi.

Tapi, Presiden Jokowi ternyata masih kalah dengan kuatnya permainan kartel di tingkat operasional di lapangan. “Keinginan Presiden Jokowi mengembalikan Bulog ke khittahnya sesuai dengan UU No.18/2012, ternyata masih kalah dengan sangat kuatnya kartel di tingkat operasional lapangan. Jadi, kita serahkan kepada Presiden Jokowi untuk memperkuat Bulog. Bukannya malah diperlemah,” tegas Herman Khaeron Foto:Bambang Tri P.

sumber : possore.com

Komisi IV Temukan Raskin Berkualitas Jelek

hermankhaeron.info – Tim Kunjungan Komisi IV DPR mengakui adanya temuan beras miskin (raskin) yang dibeli dan akan didistribusikan oleh Perum Bulog Subdivre Bandung yang kualitasnya kurang baik(jelek). Karena itu, Bulog dituntut untuk lebih cermat membeli beras yang berkualitas untuk masyarakat.

“Kepala Gudang Bulog menyampaikan jenis beras raskin yang ada sudah sesuai, namun harus kita check lagi, apakah jika dimasak bagus atau tidak, karena kami melihat warnanya agak kuning. Yang penting buat kami,  untuk raskin harus mengutamakan kualitas, untuk apa kita bagikan kalau akhirnya tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat” kata Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR Edhy Prabowo usai meninjau Gudang Bulog di Bandung, Jawa Barat, Senin (20/6).

Ditambahkannya, kalau dilihat pecahan berasnya masih bagus, cuma warnanya saja yang agak gelap, tetapi sebenarnya masih ada yang lebih parah dari itu. Kalau melihat dari waktu kedatangan beras baru 10 hari, berarti beras raskin ini masih baru, intinya ada hal yang harus diperbaiki.” Bagaimanapun raskin merupakan instrumen pemerintah untuk mengintervensi terhadap pasar,” tukasnya .

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi IV Herman Khaeron mengatakan, persoalan kualitas beras raskin ini harus selaras dengan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Supaya raskin tidak identik dengan beras yang rusak, berkualitas rendah, tapi justru raskin dapat memperbaiki kualitas hidup masyarakat miskin melalui ketersediaan beras yang murah.

Selain itu, kata Herman, ia menemukan tidak adanya stempel yang dicantumkan pada setiap karung beras, sebagai tanda pemasoknya darimana, kemudian mengenai komitmen terhadap beras broken dan kadar air itu dicantumkan. Padahal, setahun yang lalu setiap karung beras ada stempelnya.

“ Saya juga heran kenapa kosong, apakah ini terkait dengan persoalan yang terjadi di Solo pada waktu itu, supplier keberatan untuk dicantumkan. Menurut saya stempel ini menjadi penting, selain berguna untuk pengawasan, hal ini dimaksudkan kepada seluruh supplier dan mitra kerja Bulog agar mempunyai tanggung jawab terhadap berbagai tuntutan masyarakat, terutama terhadap kualitas dari raskin” tutup politisi F-Partai Demokrat ini.(jk,mp) foto : Jaka/mr.

sumber : dpr.go.id