Badan Ini Jadi Kunci Masa Depan Sumber Daya Alam Indonesia

hermankhaeron.info – Fraksi Partai Demokrat di DPR melakukan rotasi sejumlah kadernya di pimpinan DPR. Salah satu yang digeser adalah Wakil Ketua Komisi IV DPR, Herman Khaeron.

Partai besutan SBY itu menunjuk Herman Khaeron sebagai Wakil Ketua Komisi VII untuk menggantikan Mulyadi. Sementara, Mulyadi sendiri dipindah ke Komisi III DPR RI.

Herman Khaeron mengatakan bahwa penunjukannya sebagai Wakil Ketua Komisi VII merupakan tugas besar yang harus dilakukannya untuk menuju kedaulatan pangan dan energi.

“Dua-duanya memiliki road map yang sama menjadi tujuan negara. Dan dua-duanya sama menjadi hajat hidup bangsa. Saya kira penugasan ini dari fraksi atau pimpinan partai kepada saya di komisi VII DPR RI ini juga sama seperti apa yang ada di komisi IV DPR,” tukas Herman di Jakarta, Rabu (4/10).

Dengan ditunjuknya sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Herman mengaku bahwa dirinya akan menunjukan sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat untuk negeri ini.

“Prinsip bahwa tetap seperti yang sudah digariskan dalam uu 18 tahun 2012 Adalah menuju kedaulatan kemandirian dan ketahanan dan keamanan pangan. Ini juga sejalan dengan tugas kami di komisi VII menuju terhadap kedaulatan energi. Dan energi ini menjadi sebuah cita-cita masa depan,” pungkasnya.

sumber: jitunews

Pemerintah Kembali Didesak Segera Bentuk Badan Pangan Nasional

hermankhaeron.info – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar terus menkampanyekan program one day no rice. Karena, hingga saat ini, konsumsi masyarakat masih didominasi oleh beras. Bahkan, tingkat konsumsi beras masya rakat Jabar pada 2015 naik s ekitar 0,47 kg bila dibanding kan 2014.

Pada 2015, konsumsi beras masyarakat Jabar sebesar 86,7 kg per kapita per tahun. Pada 2014, konsumsi beras hanya 86,23 kg per kapita per tahun. Namun, mes kipun konsumsi beras di Ja bar naik pada 2015, tingkat kon sumsi beras di Indonesia masih lebih tinggi dibanding Jabar.

“Konsumsi beras penduduk In donesia pada 2015 mencapai 98,8 kg per kapita per tahun,” ujar Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Ketahanan Pa ngan daerah Jabar, Lilis Irianing sih kepada wartawan di sela-sela acara Lomba Cipta Menu Tingkat Provinsi 2016, belum lama ini.

Berdasarkan hasil analisis, kualitas konsumsi pangan masyarakat Jabar masih belum mencapai kondisi ideal. Saat ini, kecukupan energi di Jabar masih didominasi kelompok pangan padi-padian, yakni mencapai 70 persen. Padahal, jika mengacu pada standar ideal, kontribusi angka kecukupan energi (AKE) untuk kelompok padi-padian sebesar 50 persen dari total AKE.

“Konsumsi masyarakat Jabar masih didominasi oleh beras. Makanya, konsumsi padi-padian masih tinggi,” kata Lilis Untuk umbi-umbian, kata dia, pada 2015 konsumsi masyarakat Jabar mencapai 10,2 kg per kapita per tahun. Konsumsi pa ngan hewani sebesar 33 kg per ka pita per tahun, dan konsumsi sayur dan buah mencapai 74,4 kg per kapita per tahun.

Lilis mengatakan, konsumsi protein masyarakat Jabar pada 2015 pun mengalami peningkat an. Yakni, mencapai 60,5 gram per kapita. Padahal, pada 2014, kon sumsi protein di Jabar hanya 58,5 gram per kapita. Konsumsi protein masyarakat Jabar ini telah meme nuhi angka kecukup an protein.

Dikatakan Lilis, Pemprov Jabar terus berupaya untuk memperkenalkan karbohidrat non beras pada masyarakat. Oleh ka rena itulah Jabar membuat ke bijakan one day no rice yang ma sih terus dikampanyekan hingga saat ini.

Namun, kata dia, agar program ini bisa sukses, Pemprov Jabar pun harus gencar mensosialisasikan karbohidrat pengganti beras. Agar, masyarakat bisa akrab dan terbiasa mengonsumsi karbohidrat nonberas seperti singkong, ubi, atau talas.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron mengatakan, pola konsumsi masyarakat tergolong beragam. Baik pangan sumber karbohidrat maupun protein, konsumsinya cukup tinggi sebesar 68,89 persen. Namun, dalam penelitiannya, ditemukan bahwa rata-rata konsumsi pangan yang tinggi ini ternyata belum mencerminkan diversifikasi pangan karena bias terhadap beras dan mi instan.

“Pola produksi dan pola dis tribusi pangan masyarakat juga dinilai belum mendukung diversifikasi pangan,” ujar Herman dalam sidang doktornya di bidang Pertanian dengan disertasi berjudul ‘Model Pengembangan Diversifikasi Pangan Dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional Studi Kasus di Jawa Barat’, belum lama ini.

Herman menilai, tingkat ke tahanan pangan masyarakat di Provinsi Jabar terkategori rendah dalam segi ketersediaan dan pemanfaatan pangan. Namun, ketahanan pangan relatif tinggi dalam segi kesesuaian dan keter jangkauan pangan.

Meskipun pangan tersedia namun tidak merata, cenderung homogen pada beras dan mi instan. “Hasil penelitian menun jukkan sebagian besar atau 56,47 persen masyarakat belum memperhatikan manfaat pangan sehingga gizinya kurang berim bang dan bernutrisi,” katanya.

Menurut Herman, model diversifikasi pangan yang dikem bangkan harus berdasarkan pen dekatan humanis dan bersifat ko laboratif, partisipatif, dan integ ratif di antara seluruh elemen terkait. Karena itu, model yang di kembangkan harus mengedepan kan penghargaan terhadap komoditas dan nilai global namun mengedepankan moral, keragaman hayati, nilai lokal, partisipasi, dan identitas bangsa yang merupakan model pengembangan diver si fikasi pangan demokratis. ¦ 

sumber: republika

Tiga Langkah Hadapi Potensi Ancaman Arus Barang Produk Pertanian

hermankhaeron.info – Sejalan dengan berlakunya pasar bebas, arus barang termasuk produk pertanian seperti bahan pangan pokok, semakin bebas dan mudah memasuki wilayah RI. Hal ini berpotensi menjadi ancaman bagi petani lokal dan berpotensi menimbulkan ketergantungan pangan kita kepada asing.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron menyatakan, kunci dalam menghadapi globalisasi adalah efisiensi usaha tani. Potensi ancaman dapat dihadapi dengan 3 langkah yang bersifat mikro yaitu meningkatkan jumlah produksi sehingga tercapai kecukupan pangan nasional dan meningkatkan efisiensi biaya produksi sehingga produk pertanian memiliki daya saing harga.

“Kemudian meningkatkan kualitas sehingga produk pertanian memiliki daya saing kompetitif serta mengupayakan kontinuitas suplai pangan,” kata dia kepada wartawan, Selasa (3/10).

Secara makro, perlu regulasi sektor pertanian dan perlindungan yang lebih baik kepada petani termasuk perlindungan dari berbagai bencana alam serta pengembangan sarana dan prasarana pertanian termasuk pengembangan industri alsintan dalam negeri.

Semua langkah tersebut tidak terlepas dari keberhasilan implementasi teknologi pertanian modern. Melalui kebijakan pemerintah yang mengutamakan keberpihakan kepada petani di antaranya dengan meningkatkan fasilitasi bantuan alat mesin pertanian secara signifikan, telah menggeser kegiatan usaha pertanian dari sistem tradisional menuju pertanian yang modern.

“Modernisasi pertanian dapat dilihat pada penggunaan metode budidaya yang lebih baik dan efektif, penerapan alat mesin pertanian dengan teknologi tepat guna dari mulai pengolahan lahan, pemanenan dan penanganan pasca panen,” jelasnya.

Kemudian penggunaan benih unggul, pemupukan yang tepat guna dan mencukupi, penggunaan SDM pertanian yang lebih berkualitas, serta efisiensi penggunaan sumberdaya alam terutama air irigasi, sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.

Ditambahkan Herman, modernisasi melingkupi aspek pasca panen seperti sistem panen, pengolahan hasil dan pembuatan kemasan modern dan aman, tata niaga yang efisien, serta terus menerus menyempurnakan kebijakan pemerintah yang kondusif bagi kegiatan usaha pertanian.

“Modernisasi pertanian mesti mampu menjamin ketersediaan suplai berdasarkan penataan masa panen dan teknik pengemasan hasil yang baik,” kata dia.

Modernisasi pertanian termasuk skim pembiayaan pada petani dan sistem penjaminan usaha tani melalui asuransi, sehingga petani mampu berproduksi dengan optimal.

sumber : daulat

Herman Khaeron Tinjau Langsung Kebakaran Hutan Lereng Gunung Ciremai

hermankhaeron.info – Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron meninjau kebakaran hutan di lereng Gunung Ciremai yang terjadi pada Kamis (21/09/2017) lalu. Kejadian tersebut menghanguskan lahan lebih dari 40 hektar.

Dengan ditemani Dirjen KSDAE Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Wiratno, Herman Khaeron melihat langsung lokasi kebakaran hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di Blok Batu Saeng, Dusun Bina Karya (Pekuncen) Desa Kaduela Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Herman Khaeron mengapresiasi peran serta masyarakat sekitar yang tanggap terhadap kebakaran hutan. Walaupun api berhasil di padamkan setelah delapan jam, kini belum sepenuhnya dinyatakan aman.

Karena, memasuki hari ke-3 setelah kebakaran masih banyak kepulan asap dan bereberapa titik api dibawah batu. Api dibalik batu, walaupun kecil tapi memiliki potensi bahaya yang besar.

“Setelah berbicara dengan petugas TNGC, katanya masyarakat disini ikut membantu pemadaman api. Ini kan luar biasa,” kata Herman saat ditemui saat kunjungannya ke awasan TNGC, Kuningan, Jawa Barat, Minggu (24/9/2017).

Politisi Demokrat ini mengatakan, penanganan kebakaran hutan tidak hanya dilakukan ketika bencana itu terjadi, tetapi tindakan pencegahan pun perlu ditingkatkan.

“Vegetasi di sekitar, rawan terbakar saat musim kemarau dan medannya berat sekali karena berbatu-batu, ini pasti mempersulit pemadaman api,” ujarnya.

Menurutnya, pengelolaan kawasan sekitar dijadikan objek pariwisata sangat penting untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan.

“Wisata Batu Luhur ini lingkungannya sangat terawat dengan baik. Padahal, objek wisata ini dekat sekali dengan lokasi kebakaran. Kita bisa lihat, pariwisata dapat mencegah kebakaran, karena masyarakat sekitar ikut mengelola, dan manfaat ekonominya pun cukup tinggi,” terangnya.

Ditempat yang sama, Petugas Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Darsono mengatakan, setelah kebakaran padam kini masih ada yang harus diwaspadai yakni kepulan asap dan api kecil dibawah batu.

“Masih ada asap, ternyata ketika kita cek ke lokasi di bawah batu itu masih ada api,” katanya, Minggu (24/05)

Ia melanjutkan, api lama yang tersisa di bawah batu itu tersebar di beberapa titik karena kebakaran yang terjadi pun tersebar kurang lebih di 4 titik.

“Di setiap titik kami temukan dan langsung dipadamkan, dan kalau ada asap sekecil apapun itu juga kita padamkan. Karena, kalau tidak cepat-cepat diamankan api-api kecil itu berpotensi menimbulkan kebakaran lagi,” ucapnya.

Namun, pemadaman sisa api itu bukan tanpa kendala, ia mengaku, keterbatasan alat sempat menyulitkan proses pemadaman.

“Api itu kan adanya dibawah batu, mengangkat batunya yang sulit. Karena kita hanya mengandalkan tangan dan peralatan yang ada,” tutupnya.(yn)

sumber : teropongsenayan

Herman Khaeron Pada KAHMI Forever: Generasi Kuat Harus Ditunjang Kesehatan Rohani dan Jasmani

hermankhaeron.info – Generasi bangsa yang kuat tak hanya berpendidikan tinggi, tetapi juga mesti ditunjang kesehatan rohani dan jasmani. Sehingga potensi yang ada akan semakin berkembang dan pada akhirnya akan berdampak pada kemajuan bangsa.
 
Hal tersebut diungkapkan Pimpinan Komisi IV DPR RI, Dr Ir H E Herman Khaeron saat memberikan sambutannya di depan ratusan peserta KAHMI Forever Jalan Sehat (KFJS) di Halaman Masjid Syiarul Islam Kuningan, Minggu (24/9/2017).
 
Kegiatan yang digagas Korps Alumni Mahasiswa Islam (KAHMI) bertema “Sehat Jasmani dan Rohani Jangan Lelah Merawat Indonesia tersebut juga dihadiri Bupati Kuningan, Acep Purnama, dan para bakal calon bupati yang akan berlaga di pilkada tahun 2018.
“Seharusnya kan begitu, kita tidak hanya harus pintar tapi badan harus sehat dan enerjik. Pendidikan tinggi harus ditunjang dengan kesehatan jasmani dan rohani, maka akan tercipta generasi bangsa yang unggul,” kata Herman.

Anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI tersebut mengapresiasi kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dan olahraga. Salah satunya kegiatan KFJS yang diprakarsai KAHMI Kabupaten Kuningan.

 
“KAHMI harus terus berusaha memberikan kontribusi untuk bangsa ini melalui berbagai kegiatan positif termasuk dalam kegiatan olahraga,” ujar Herman.
 
Tidak hanya sekedar olahraga, lanjut Herman, kegiatan ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu kegiatan yang efektif dalam membangun komunikasi dan kebersamaan antar sesama alumni HMI mengingat jumlah anggota KAHMI kalau secara nasional itu sangat banyak jumlahnya.
 
“Mudah-mudahan banyak manfaat yang bisa kita ambil dengan adanya kegiatan ini. Kebersamaan dan silaturahmi menjadi kekuatan KAHMI yang tidak terputus dari masa ke masa,” pungkas Herman.(Inez/Grapol)
 
sumber: gragepolitan.com

Keterlibatan TNI dalam Program Upsus Kementan Dinilai Sah-sah Saja

hermankhaeron.info – Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Herman Khaeron menegaskan program beras untuk rakyat pra sejahtera (rastra), dulu dikenal sebagai raskin harus tetap dilaksanakan pemerintah meskipun telah ada program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Dalam Diskusi bertajuk “Evaluasi Pelaksanaan Pangan” di Gedung Perum Bulog, Jakarta, Jumat (22/9), dia mengatakan Raskin/Rastra tidak hanya berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi, namun juga sebagai stabilisator harga.

Raskin/Rastra juga merupakan “buffer stock” nasional sebagai antisipasi terjadi peningkatan kebutuhan pangan secara mendesak, diantaranya jika terjadi gagal panen dan bencana alam. “Oleh karenanya, program Raskin (Rastra ) tetap harus dilaksanakan sebagai bentuk tanggung jawab Pemerintah dalam pemenuhan pangan yang cukup ketersediaannya, terjangkau (fisik dan ekonomi), dan aman di konsumsi,” katanya.

Menurut dia, Bulog telah memiliki sistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, sehingga, dalam pelaksanaan program Raskin/Rastra, dapat dilakukan secara tepat waktu serta harga yang terjangkau dengan harga yang sama di seluruh Indonesia. Herman menjelaskan ada empat peranan dan kewajiban pemerintah dalam pemenuhan pangan di Indonesia, sesuai dengan pokok-pokok pemikiran dalam Undang-Undang nomor 18 tahun 2012 tentang ketahanan pangan.

Pertama, suatu kewajiban bagi pemerintah dalam mengelola stabilisasi pasokan dan harga pangan pokok guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. “Jadi mau di mana pun orangnya, mau di manapun beras dikirim, harganya harus stabil. Itu yang diinginkan UU nomor 18 tahun 2012 tentang ketahanan pangan,” katanya.

Kedua, mengelola distribusi pangan pokok, tambahnya, pemerintah wajib mendistribusikan pangan pokok dari daerah produsen ke daerah konsumen. Untuk itu, dia mengapresiasi peran Perum Bulog yang bertugas mendistribusikan pangan ke seluruh Indonesia. “Kalau tidak ada Bulog siapa yang distribusikan? Pedagang? Harganya pasti mahal. Kalau tidak ada Bulog maka harga di Puncak Jaya pasti bisa sampai Rp30.000. Jadi mengelola distribusi tidak gampang,” imbuhnya.

Ketiga, mengelola cadangan pokok. Salah satu bukti pengelolaan yang telah dilakukan pemerintah adalah dengan melebarkan tupoksi Bulog. Sehingga, Bulog tidak hanya mengurusi beras, namun juga beberapa pangan lainnya. Keempat, mewujudkan pangan yang bergizi bagi masyarakat. “Ini lah kenapa saya sering mengkritisi pergantian rastra terhadap BPNT. Karena keempat persoalan ini tidak bisa digantikan oleh kartu. Ini harus berwujud. Harus menjadi strategi pengelolaan pangan yang berwujud. Tidak bisa dalam bentuk kartu. Kartu kredit saja macet. Lalu siapa yang mendistribusikannya?” ujarnya.

Oleh karena itu, menurut Herman, pemerintah harus memperjelas posisi Bulog pasca implementasi program BPNT, serta harus ada jaminan outlet untuk menyalurkan serapan gabah petani. “Semua upaya dan program peningkatan ketahanan pangan nasional harus melibatkan Bulog yang memang sudah memiliki sistem dan mekanisme yang terintegrasi, serta infrastruktur yang lengkap hingga ke daerah-daerah terpencil,” kata politisi Partai Demokrat itu.

sumber: neraca.co.id

Selama 10 Tahun, Indonesia Kehilangan 5 Juta Petani

hermankhaeron.info – Hasil survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menyebutkan profesi petani di Indonesia akan punah, sepertinya bukan mengada-ada.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron mengatakan, jumlah rumah tangga petani di Indonesia terus mengalami penurunan. Berdasarkan sensus tahun 2000, jumlahnya mencapai 31 juta.

Jumlah tersebut mengalami penurunan yang sangat signifikan 10 tahun kemudian. Tahun 2010, jumlah rumah tangga petani tersisa 26 juta jiwa.

“Berarti dalam kurun waktu 10 tahun, petani di Indonesia berkurang 5 juta rumah tangga petani,” katanya kepada trubus.id, Kamis (21/9/2017).

Menurut politisi Partai Demokrat ini, meningkatnya jumlah populasi penduduk Indonesia setiap tahunnya sebesar 1,49 persen, tidak mampu menahan lanju penurunan jumlah petani.

Ia khawatir, penurunan jumlah petani akan semakin signifikan jika lahan yang seharusnya digunakan untuk pertanian, dialihfungsikan untuk hal lain.

Dia pun meminta kepada pemerintah untuk menyiapkan jurus-jurus jitu agar kalangan pemuda tertarik menjadi petani. “Saya sudah sering teriak, agar dilakukan regenerasi petani,” ujarnya.

Tak hanya itu, pemerintah juga harus melakukan terobosan-terobosan, salah satu caranya dengan melakukan modernisasi bidang pertanian, sehingga menarik minat pemuda untuk menggeluti profesi petani.

Khusus untuk tenaga penyuluh pertanian kinerjanya harus ditingkatkan. Ia melihat, selama ini cara kerja penyuluh pertanian monoton dan tidak dapat menerjemahkan dengan tepat, sehingga anak muda enggan jadi petani.

Dia mencontohhkan, para penyuluh harus dapat menjelaskan kepada pemuda bahwa profesi petani dapat memberikan kesejahteraan bagi hidup, juga akan ditemukan hal-hal yang baru. “Misalnya, dengan membudidayakan jagung, bisa dibuat makanan ringan atau produk makanan lainnya. Kasih tahu pemuda bahwa profesi petani itu bergengsi, tidak seperti yang dibayangkan,” tukasnya. [AG/AS]

sumber: trubus

E. Herman Khaeron: Berjuang Wujudkan Percepatan Kemandirian Pangan

hermankhaeron.info – Sebagai wakil rakyat, E. Herman Khaeron dikenal kritis dan tegas terutama dalam memperjuangkan ketahanan pangan, kesejahteraan petani dan nelayan. Maka tak ayal, politisi Partai Demokrat tersebut dua kali berturut-turut diberi kepercayaan menjadi pimpinan komisi IV yang ruang lingkupnya meliputi bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, perikanan, dan pangan.

Herman menjabat Wakil Ketua Komisi IV pada periode 2009-2014 dan berikutnya 2014-2019 dari daerah pemilihan yang sama, Jawa Barat VIII (Kab. Indramayu, Kab. Cirebon dan Kota Cirebon).

“Saya tidak pernah membayangkan akan menjadi wakil rakyat, tapi sudah jalan yang digariskan Allah SWT, saya terpilih menjadi anggota DPR RI bahkan dipercaya menjadi Wakil Ketua Komisi IV,” ungkapnya.

Herman mengisahkan, ia menjadi simpatisan Partai Demokrat sejak Susilo Bambang Yudhoyono mendirikan partai tersebut pada 9 September 2001 lalu, dan turut menjadi relawan SBY-JK pada pilpres tahun 2004, kemudian menjadi pengurus DPP Partai Demokrat pada tahun 2005 sebagai Ketua Departemen Kelautan dan Perikanan.

Kematangannya dan penguasaan isu-isu pertanian, kehutanan dan perikanan membuat Herman terus diberi kepercayaan. Terlebih saat menjadi pimpinan komisi IV DPR RI, ia betul-betul memanfaatkan posisi strategisnya untuk mewujudkan percepatan ketahanan pangan nasional yang mandiri dan berdaulat. Salah satu yang prestisius, ia diberi tugas khusus menjadi Ketua Panja (Panitia Kerja) UU No. 18 Tahun 2012 tentang pangan.

“Hal yang substantif dalam Undang- Undang tersebut adalah bagaimana pangan sampai kepada tingkat individu sebagai hak azasi manusia, secara cukup, bergizi seimbang dan beragam. Prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan spirit Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan yang dicanangkan pemerintahan Pak SBY di Purwakarta pada tahun 2005 lalu,” jelasnya.

Masyarakat Indonesia sangat bergantung terhadap sektor pangan yang basisnya adalah pertanian, sambung Herman, tentu masyarakat harus bersyukur indonesia sebagai negara agraris dan beriklim tropis.

“Produktivitas kita bisa jauh lebih tinggi dibanding negara lain. Asalkan kelima instrumen, yakni lahan, air, benih, pupuk, dan manajemen tanam yang baik bisa dipenuhi,” jelasnya.

Sehingga di dalam pembangunan pangan khususnya sektor pertanian, menganut tiga strategi pokok, yakni intensifikasi, bagaimana dengan input teknologi dan manajemen tanam bisa menghasilkan produktifitas pangan lebih tinggi daripada pertumbuhan konsumsi rata-rata masyarakat Indonesia per kapita per tahun.

Kemudian ekstensifikasi, perluasan area lahan ini menjadi keharusan karena terjadinya konversi pembangunan lainnya, lahan-lahan yang saat ini dipergunakan sebagai lahan produksi dan sumber pangan banyak yang beralih fungsi. Hal ini bisa dijawab salah satunya dengan mengolah dan mengotimalkan lahan-lahan yang tidak produktif dan mengkonsolidasikannya.

“Selain itu, kita masih memiliki sebaran hutan di seluruh indonesia yang luasnya 124 juta hektar. Ini yang harus kita jaga untuk generasi mendatang. Caranya kita mesti pandai mengatur mana kawasan pemanfaatan, penyangga, dan konservasi, ini harus dikelola dengan strategi pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.

“Nah ada satu strategi yang belum optimal dilaksanakan yakni diversifikasi, ini adalah program mengurangi konsumsi beras dengan mengembangkan alternatif pangan lokal sebagai panganan pokok, misalnya biji-bijian (sorgum, hanjeli, jagung, dan lain-lain), umbi-umbian (singkong, ubi, porang, dan lain-lain), bahkan kita bisa mengembangkan pangan dengan bahan rumput laut dan komoditas lainya yang bisa diolah menjadi makanan pokok. Sebenarnya di era Pak SBY sudah gencar dilaksanakan melalui kampanye one day no rice,” terang pria yang meraih gelar Doktor dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, dengan desertasi berjudul model pengembangan diversifikasi pangan dalam mendukung ketahanan pangan nasional, dan memperoleh predikat Cumlaude.

Dengan kemampuan komoditas lokal inilah ketergantungan terhadap beras secara nasional juga akan berkurang. Bila diversifikasi berjalan, imbuhnya, maka kebutuhan pangan dengan kemampuan produksi lokal akan terpenuhi. Dengan diversifikasi, Indonesia bisa mengurangi konsumsi beras/nasi, dan mencapai swasembada beras, dan dapat ekspor serta menjadi devisa negara. Di sisi lain diversifikasi dengan pengembangan komoditas lokal merupakan prospek baru usaha masyarakat di bidang pangan.

Herman mengatakan, Indonesia juga adalah negara kepulauan (Archipelago State) dimana dua pertiga wilayahnya adalah laut sehingga memiliki potensi besar di sektor perikanan.

“Saya kira diversifikasi terhadap protein itu penting. Ikan kita melimpah, laut kita sangat luas. Artinya kita memiliki potensi besar yang mesti dibicarakan secara serius dan bisa menjadi pilihan pangan pokok kedepan. Menurut saya ini harus menjadi prioritas kebijakan dan strategi pemenuhan pangan ke depan,” paparnya.

Sejak menjadi pimpinan Komisi IV, Herman ikut berjuang melahirkan banyak regulasi untuk percepatan kedaulatan dan kemandirian pangan serta kesejahteraan petani dan nelayan, di antaranya UU. No 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura; UU No 18 Tahun 2012 tentang Pangan; UU No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan; UU No 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani; UU Perkebunan, UU Peternakan dan Kesehatan Hewan, UU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, serta Undang -Undang No.7 Tahun 2016 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam.

Saat ini, imbuhnya, DPR sedang melakukan revisi terhadap Undang-undang Sistem Budidaya Tanaman nomor 12 tahun 92. Selain karena dianggap sudah tidak relevan, revisi tersebut dilakukan demi meningkatkan produktifitas di sektor pangan. Nantinya akan menjadi undang-undang induk yang diberi nama Undang-undang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan.

Herman dikenal rajin turun ke daerah pemilihan, “Saya sudah 2 periode terpilih di dapil saya. Saya harus memposisikan diri sebagai wakil rakyat yang memiliki fungsi legislasi, pengawasan/kontrol, dan anggaran, artinya ketiga fungsi itu lah yang menjadi koridor kami di dalam menyerap aspirasi dan mendengarkan apa yang harus saya lakukan atas dasar harapan rakyat tentunya,” jelasnya.

Sementara di HUT ke-16 Partai Demokrat, ia mengungkapkan Partai Demokrat adalah anak kandung reformasi, yang kelahirannya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pengawal demokrasi, dan pembangunan yang lebih berkadilan.

“Usia 16 tahun adalah usia dewasa yang produktif, banyak gagasan, inovatif, dan akseleratif. Meskipun selama 10 tahun Partai Demokrat pernah menjadi ‘The Rulling Party’, tentunya tidak pernah berpuas diri. Kedepan, Partai Demokrat hatus semakin mewarnai negeri ini, melakukan akselerasi pembangunan untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera. Partai Demokrat, untuk rakyat pasti peduli dan beri solusi,” pungkasnya. (Gia/MO)

sumber: obsessionsnews

Kang Hero Mengecek Langsung Serangan Hama Wereng Di Cirebon

“Saya cek langsung serangan hama wereng klowor/kerdil rumput/kerdil hampa, di Kaliwedi, Gegesik, dan Susukan Cirebon.

Situasinya harus ada penanganan secara khusus dan serius karena sudah masif. Petani harus dibantu dan beri solusi jalan keluarnya secara komprehensif. Terimakasih kepada Dirjen Tanaman Pangan dan jajaran kementan bersama TNI segera tangani masalah ini.”