Hero Serahkan Bantuan Eskavator untuk Petani

Untuk membantu meningkatkan kesejahteraan para petani di Kabupaten Cirebon, Ketua Komisi IV DPR RI dari Partai Demokrat Herman Khaeron  kembali memberikan bantuan berupa dua unit eskavator. Bantuan alat tersebut diberikan kepada dua kelompok tani yakni Kelompok Tani Wijaya Desa Ciuyah, Kecamatan Waled dan Pandan Sari Desa Jatianom Kecamatan Susukan.

Bantuan tersebut diberikan wakil rakyat yang biasa disapa Hero tersebut mengingat pertanian di Kabupaten Cirebon belum ada tindakan apapun saat para petani mengalami kerugian akibat banjir dan saluran yang mempet sehingga petani kesulitan air. Apalagi saat sekarang dengan intensitas hujan yang cukup tinggi, saluran air yang dangkal dan rusak dan belum mendapat perbaikan sehingga mengakibatkan lahan pertanian terendam banjir.  

“Ini sangat bermanfaat sekali untuk perbaikan saluran tersier yang ada di desa kami. Sekali lagi kami ucapkan banyak terima kasih kepada Herman Khaeron, anggota DPR RI dari Partai Demokrat yang telah memberikan eskavator ini,” terang Sukma, Kuwu Jatianom kepada fajarnews.com, usai penerimaan alat berat di kelompok tani Pandan Sari, Selasa (24/1).

Baginya kata Sukma, eskavator mini tersebut sangat bermanfaat karena bukan hanya kelompok tani Pandan Sari yang merasakan manfaatnya, tetapi semua petani Desa Jatianom, karena sering terjadi banjir pada saluran kumpulkwista dan sungai Wanakayam serta banyak saluran irigasi yang rusak.

“Pada tahun 2013 lalu untuk sungai kumpul kwista pernah dinormalisasi, namun sekarang dangkal lagi. Dan untuk sungai Wanakayam sampai sekarang belum ada normalisasi sehingga bisa mengakibatkan banjir, apa lagi seperti sekarang yang insten hujannya tinggi, sehingga akibatnya tanaman padi yang baru ditanam terendam banjir,” katanya.

Pihaknya sangat berharap kepada kepada dinas terkait untuk segera melakukan normalisasi untuk sungai Wanakayam, sehingga dengan bantuan alat berat ini bisa dilakukan pengerukan pada saluran untuk wilayah desanya.

Sementara Ketua Kelompok Tani Pandan Sari, Sukardi mengaku sangat bersyukur sekali mendapat bantuan alat berat. Selama ini petani khususnya kelompok tani sangat membutuhkan alat pengeruk itu untuk memperbaiki saluran yang dangkal ataupun saluran rusak.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Herman Khaeron dari Partai Demokrat. Semoga dengal alat berat itu bisa bermanfaat untuk memperbaiki saluran irigasi untuk pertanian di wilayah Jatianom, khususnya 28 hektare milik kelompok Tani Pandan Sari bisa lebih baik karena pengairan bisa diatur,” ungkapnya. 

sumber

DPR Sepakat Perkuat Kerja Sama RI-Rusia di Bidang Pertanian dan Perikanan

hermankhaeron.info – Komisi IV DPR melakukan pertemuan dengan Parlemen Rusia. Dari hasil kunjungan itu, Indonesia dan Rusia sepakat memperkuat kerja sama khususnya di bidang pertanian dan perikanan.

Berdasarkan keterangan yang dikirim oleh KBRI Moscow, Selasa (18/10/2016), pertemuan antara delegasi Komisi IV DPR dengan Dewan Federasi (DPD Rusia) juga menghasilkan potensi kemungkinan melakukan impor gandum secara langsung. Perwakilan DPR RI yang dipimpin oleh Ketua Komisi IV Edhy Prabowo juga mengadakan pertemuan dengan National Union of Grain Producers of Russia dan perusahaan Blackspace.

Kunjungan Herman Khaeron ke Rusia

Kunjungan Herman Khaeron ke Rusia

“Kunjungan ini dilakukan dalam rangka mendorong kerjasama bidang pertanian, kelautan dan perikanan, lingkungan hidup serta kehutanan ke Rusia,” demikian keterangan dari siaran pers KBRI Moscow.

Saat bertemu dengan pimpinan Dewan Federasi Rusia, Edhy Prabowo menggarisbawahi nilai penting kerja sama dan kemitraan Indonesia dan Rusia dalam segala bidang. Komisi IV juga menyampaikan komitmennya mendorong kerja sama berbagai sektor khususnya yang merupakan mandat dari Komisi IV yaitu bidang pertanian, perikanan dan kelautan, lingkungan, kehutanan, dan pangan.

Komisi IV DPR pun mendorong agar pemerintah Indonesia dan Rusia melakukan kerja sama ekspor-impor gandum melalui perdagangan langsung. Ini mengingat Rusia sebagai salah satu produsen dan eksportir utama gandum dunia.

“Komisi IV juga mengusulkan kerja sama transfer of knowledge dan pertukaran pandangan khususnya di sektor pangan, kerja sama di bidang pertanian, kerja sama investasi perikanan serta penanggulangan kebakaran hutan,” terang KBRI Moscow.

Selain Edhy Prabowo, tampak pula sejumlah anggota Komisi IV dalam kunjungan ke Rusia. Di antaranya Wakil Ketua Komisi IV Herman Khaeron dan Siti Hediati atau Titiek Soeharto, serta Eko Hendro Purnomo.

Di sela-sela kunjungan resmi, delegasi Komisi IV juga berkesempatan melakukan pertemuan dengan KBRI RI dan sejumlah perwakilan masyarakat Indonesia yang ada di Moskow. Rombongan DPR itu diterima oleh Wakil Kepala Perwakilan RI Moskow, Lasro Simbolan.

dpr-sepakat-perkuat-kerja-sama-ri-rusia-di-bidang-pertanian-dan-perikanan-2

DPR Sepakat Perkuat Kerja Sama RI-Rusia di Bidang Pertanian dan Perikanan

Dalam sambutannya, Lasro menyampaikan penghargaan atas kunjungan delegasi Komisi IV. Ia juga menjelaskan mengenai intesitas peningkatan kerja sama bilateral RI dengan Rusia, terutama setelah pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Sochi pada bulan Mei lalu.

“Lasro juga menggarisbawahi bahwa sesungguhnya Pemerintah dan DPR RI telah memiliki visi, perspektif dan semangat yang sama memperkuat kerja sama bilateral RI Rusia berbagai bidang, terutama ekonomi perdagangan, investasi, pertanian/pangan dan kelautan/perikanan,” tulis KBRI Moscow.

Sebagai pimpinan delegasi, Edhy Prabowo dalam kesempatan itu kembali menggarisbawahi soal nilai strategis penguatan kerja sama antara Indonesia dengan Rusia. Tak hanya itu, perwakilan DPR ini pun menghargai langkah pemerintah Indonesia dan kemajuan yang telah dicapai. Komisi IV pun berkomitmen untuk mendorong penguatan kerja sama yang berkelanjutan antar-kedua negara.

sumber : detik

DPR Minta Regulasi Pangan di Perbatasan Diperkuat

hermankhaeron.info – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron mengatakan untuk mengatasi masalah impor pangan ilegal di perbatasan, pemerintah perlu memperkuat regulasi di daerah perbatasan.

“Ini masalah yang sangat urgent dan harus ditangani secara cepat oleh pemerintah. Maka langkah cepatnya adalah adanya kejelasan regulasi dari pemerintah (Kemendag), sehingga bisa mengawasi proses importasi pangan ilegal tersebut,” demikian kata Herman Khaeron di Jakarta, Jumat (7/10).

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sampai saat ini dari peraturan yang dikeluarkan pemerintah (Kemendag), tidak ada perbedaan regulasi antara masyarakat Indonesia yang ada di daerah perbatasan dengan masyarakat dari negara lain yang juga tinggal di daerah perbatasan.

“Sehingga dampaknya mereka dengan begitu mudahnya melakukan impor hasil pangan ke Indonesia,” demikian katanya.

Menurutnya, regulasi ini sangat penting dilakukan untuk memberikan kejelasan kepada para masyarakat di perbatasan terkait dengan proses impor barang pangan.

Sementara terkait dengan gagasan, Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman yang menginginkan daerah perbatasan sebagai daerah lumbung pangan, ia mengapresiasi langkah tersebut, namun menurutnya proses untuk menjadikan daerah perbatasan sebagai lumbung pangan tidaklah mudah, karena keterjangkauan akses yang sangat sulit serta proses yang cukup memakan waktu.

“Gagasan Mentan itu kan proses jangka panjangnya. Untuk bisa mencapai proses jangka panjang tersebut kita mulai dengan pengaturan regulasi,” tukasnya.

Sebelumnya, Amran Sulaiman mengatakan bahwa untuk mengatasi maraknya impor pangan ilegal di daerah perbatasan, pihaknya akan membangun lumbung-lumbung pangan di daerah perbatasan, sehingga ke depan praktek impor pangan ilegal ini bisa diakhiri dan sebaliknya Indonesia justru yang akan menjadi penyuplay utama pangan dari negara-negara tetangga.

sumber : jitunews

Wakil Ketua Komisi IV: Rehabilitasi Fungsi Hutan Itu Wajib

hermankhaeron.info – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron mengatakan bahwa banjir bandang yang terjadi di Garut bukan hanya musibah saat ini. Tapi menurut Herman sejak tahun 1909 sebetulnya peringatan lokasi banjir sudah ada.

“Pemerintah Belanda waktu itu sudah mengingatkan potensi ketika itu akan banjir, bahkan sudah terjadi banjir. 1970 yang memerintahkan Solihin GP pernah menanam pohon yang mana dulu Garut ahli fungsi kawasan tersebut sangat kuat. Hutan lindung yang dulu jadi penyangga sekarang berubah fungsi,” ujarnya di Senayan, Rabu 5 Oktober 2016.

Herman menilai, kerusakan bukan terjadi di hulu sungai Cimanuk. Tapi ada di lima sub sungai Cimanuk.

“Kita prihatin atas kejadian itu. Kemarin kami Komisi IV rapat respon masalah itu, penertiban yang menjadi daerah penyangga,” ujar politisi Demokrat ini.

Herman menegaskan, rehabilitasi fungsi hutan itu wajib, terkait persoalan pembangunan rusun sudah ada yang lama namun tidak dihuni.

“Kalau PUPR hanya konsentrasi normalisasi tidak akan mampu memberikan solusi permasalahan ini. Bahkan pada waktu 2011 curah hujan tinggi mengakibatkan banyak jembatan di Sumedang ambruk, arus air yang begitu deras,” ujarnya.

sumber: vivanews

hermankhaeron.info – Presiden ke-6 Republik Indonesia,  DR.H. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melakukan panen perdana buah mangga gedong gincu di Desa Sedong Lor Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. SBY ditemani istri, Ani Yudhoyono.

SBY mengungkapkan ada beberapa alasan kenapa dirinya bersama istri mau datang dan melakukan panen perdana di lahan seluas 25 hektar milik Kelompok Tani Buah (KTB) Sukamulya tersebut. Satu diantaranya karena dirinya sangat menyukai jenis buah yang banyak ditemui dan tumbuh di daerah Cirebon, Indramayu dan Majalengka ini.

“Saat saya masih menjabat presiden, buah mangga ini selalu ada terutama ketika menjamu tamu kenegaraan,” kata pendiri Partai Demokrat ini.

Didampingi anggota DPR-RI, DR H Herman Khaeron, SBY pun memberi alasan lainnya, yakni dirinya sangat menghargai dan mengapresiasi kegigihan petani mangga yang dengan tekun terus mengembangkan tanaman mangga hingga sampai ekspor ke sejumlah negara asia dan timur tengah tersebut.

“Tempo hari saat berkunjung ke Singapura saya baru tahu bahwa kebutuhan buah-buahan disana membutuhkan ribuan ton buah. Dan saya ketahui juga bahwa sangat sedikit sekali suplai (eksport) buah dari Indonesia, karena itulah waktu itu saya minta kepada Dubes untuk mengambil peluang itu dengan meniventarisir dan kerjasama dengan para petani buah agar buah-buah dari Indonesia dapat masuk kesana (Singapura,red),” tegasnya.

Menurut SBY, pertumbuhan penduduk dunia kini sudah mencapai 7,3 milyar, Jumlah itu akan meningkat terus dari tahun ke tahun. Banyaknya jumlah penduduk itu jelas membutuhkan makanan untuk tetap hidup, dan satu diantaranya adalah kebutuhan akan buah-buahan.

“Untuk itulah sangat diperlukan sekali inovasi dan pengembangan produksi buah-buhanan,” tegasnya.

Legislator Harapkan Hewan Ternak Dapat Asuransi

hermankhaeron.info – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron berharap agar seluruh hewan ternak mendapatkan asuransi, sama halnya seperti tanaman padi untuk meningkatkan produksi pangan.

“Kami sudah usulkan melalui Komisi IV DPR RI dan Kementan RI pun merespon baik, bahwa hewan ternak khususnya sapi juga harus mendapatkan progam asuransi,” kata Herman Khaeron kepada Antara di Sukabumi, Jabar, Rabu.

Menurutnya, progam asuransi ini bertujuan untuk melindungi peternak dari berbagai yang bisa merugikan mereka, seperti serangan penyakit atau lain halnya. Pemberian asuransi ini sesuai dengan amanat Undang Undang nomor 19 tahun 2013 tentan Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

Untuk besaran nilai premi asuransi yang harus dibayarkan peternak masih dalam pembahasan, namun sudah pasti pembayaran pokok premi tersebut disubsidi oleh pemerintah pusat sama seperti asuransi padi. Di mana petani hanya membayar 20 persen dari nilai premi dan 80 persennya disubsidi oleh pemerintah.

Diharapkan dengan adanya asuransi untuk hewan ternak khususnya sapi, bisa menggenjot produksi daging sapi sehingga tidak perlu impor lagi seperti di saat-saat tertentu salah satunya menghadapi Idul Fitri.

“Dengan adanya kejelasan perlindungan bagi peternak, bisa meningkatkan semangat bagi para peternak untuk menggenjot produksinya dan tujuan akhirnya peternak bisa meningkat kesejahteraannya,” tambah Herman.

Sementara itu, Seketaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan RI, Momon Rusmono mengatakan tidak hanya ternak saja yang mendapatkan progam asuransi, tetapi untuk petani yang lahannya berada di daerah rawan bencana pun harus mendapatkan progam tersebut.

Untuk itu pihaknya terus berupaya dengan perusahaan asuransi yang ditunjuk, agar bisa tetap mencairkan asuransinya jika lahan pertaniannya terkena bencana dan berada di daerah rawan bencana.

“Upaya dari pemerintah untuk melindungi dan mensejahterakan petani terus kami galakan, yang salah satunya meningkatkan kualitas tenaga harian lepas (THL) penyuluh pertanian dalam memberikan pendampingan,” katanya.

sumber: antara

hermankhaeron.info – Kebijakan Pemerintah via Kementerian Pertanian yang memutuskan untuk mengimpor daging sapi kategori secondary cut dan jeroan mengundang kritikan pedas dari sejumlah tokoh politik. Impor yang dilakukan untuk menekan harga daging sapi yang tak kunjung turun dinilai sejumlah tokoh sebagai bentuk merendahkan martabat bangsa. Anggota DPR RI dari komisi IV, Herman Khaeron mengkritisi langkah pemerintah  sebagai bentuk yang merugikan konsumen, impor daging jenis jeroan adalah bentuk kebijakan yang merendahkan martabat masyarakat dan bangsa Indonesia. Sebab, jeroan di negara-negara Eropa justru untuk pakan binatang, dan tidak layak konsumsi untuk manusia.

Hero sapaan akrab Herman Khaeron  menilai, impor daging jenis jeroan merugikan konsumen, karena kandungan residu hormon pada jeroan sapi di negara yang membolehkan budidaya sapi dengan hormon sangat tinggi. Sehingga, tidak layak untuk konsumsi, karena membahayakan kesehatan manusia.

“Di beberapa negara, jeroan sapi bahkan diperlakukan sebagai sampah, dan ekspor jeroan sapi hanya untuk keperluan konsumsi non manusia. Jadi, silahkan pemerintah impor jeroan, tetapi bukan untuk konsumsi manusia,” ujarnya,saat dikonfirmasi KC Senin,  (18/7/2016). Impor jeroan sapi, lanjut Hero berpotensi menimbulkan masalah bagi konsumen, antara lain pertumbuhan tidak normal akibat kandungan hormon yang tinggi. “Pemerintah jangan mengalihkan ketidakmampuannya menurunkan harga daging sapi dengan cara impor jeroan, Karena hal ini sangat  membahayakan kesehatan manusia,” katanya Lanjutnya Hero juga menegaskan, mengimbau masyarakat untuk tidak membeli atau mengonsumsi jeroan sapi yang berasal dari impor. (sal/KC)

sumber: kabar-cirebon

Ekonomi Pancasila Diyakini Bisa Atasi Gejolak Harga Pangan

hermankhaeron.info – Komisi IV DPR mengingatkan pemerintah agar kebijakan impor daging kerbau jangan dijadikan alasan pelaku usaha sebagai kesempatan untuk memeroleh keuntungan.

“Saya kira di saat situasi harga (daging sapi) mahal, jangan jadikan pelaku usaha sebagai alasan untuk memasukkan daging mana pun karena masalah harga tinggi,” ujar Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron saat dihubungi Metrotvnews.com di Jakarta, Selasa (12/7/2016).

Selain itu, Indonesia merupakan salah satu negara yang dinyatakan telah bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternaknya. Masuknya daging kerbau dari India yang berstatus belum bebas PMK, dikhawatirkan mencoreng status Indonesia tersebut. Apalagi, tidak mudah untuk mendapatkan status bebas PMK.

“Mendapatkan kepercayaan organisasi Internasional yang menetapkan suatu negara bebas dari PMK itu tidak mudah. Membersihkan PMK dari fisik dan image tidak mudah,” kata Herman.

Oleh sebab itu, ia meminta pemerintah untuk menjaga status Indonesia yang sudah dinyatakan bebas PMK. Hal ini juga bertujuan untuk menghindari dampak kerugian terhadap negara.
“Jangan sampai rugi dalam waktu panjang cuma karena kebelet harga murah,” tuturnya.

Di sisi lain, pemerintah sebaiknya berpikir ulang jika ingin mengintervensi pasar dengan impor daging kerbau. Menurut Herman, pemerintah bisa mengganti dengan daging kambing, ikan, atau daging ayam kampung.

“Tingkatkan daya tarik lokal. Justru tidak pantas mematikan usaha budidaya. Jangan gegabah,” ucap Herman tegas.

Mengenai ketertarikan terhadap daging kerbau, masyarakat di Aceh sangat menyukai daging kerbau. Begitu juga masyarakat Betawi.

“Bali juga bisa saja dimasukkan daging kerbau karena di sana sapi sakral,” kata Herman.

Walau begitu, mayoritas masyarakat masih lebih menyukai daging sapi dibandingkan kerbau. Sebab, daging kerbau memiliki serat lebih besar dibandingkan daging sapi. Tidak hanya itu, makanan olahan daging di Indonesia rata-rata menggunakan daging sapi.

“Sosis, bakso, semuanya kan daging sapi. Tidak mungkin bisa digantikan karena karakteristiknya beda. Maska daging steak jadi daging kerbau,” ucap Herman.

sumber: metro

Kang Hero: Jokowi Harus Berani Lawan Kartel dan Mafia Pangan

hermankhaeron.info – Potensi pertanian di Jawa Barat tersebar secara merata di seluruh daerah, yang meliputi komoditas padi, palawija, dan hortikultural. Selain itu, jenis sayuran dan buah-buahan di daerah Jawa Barat memiliki potensi yang sangat menjanjikan. hasil pertanian utama di daerah Jawa Barat 1997 adalah sebagai berikut: hasil produksi padi mencapai 10.352.650 ton dengan luas panen sawah dan ladang 2.040.680 ha; hasil produksi jagung 336.014 ton dengan luas panen 127.994 ha, dan hasil produksi ubi kayu 1.816.487 ton dengan luas panen 141.637 ha.

Hasil pertanian pangan lainnya berupa sayur-sayuran dan buah-buhan juga benyak terdapat di Jawa Barat, misalnya kacang tanah, kacang hijau, daun bawang, bawang merah, kentang, kubis, lobak, petsai, kacang panjang, wortel, buncis, bayam, ketimun, cabe, terong, labu siam, kacang merah, tomat, alpokat, jeruk, durian, duku, jambu biji, jambu air, jambu bol, nenas, mangga, pepaya, pisang, sawo, salak serta rambutan.

Sementara hasil pertanian di daerah ini tahun 1998 menunjukkan hasil sebagai berikut: luas panen padi sawah-ladang 2.179.976 hektar dengan hasil produksi 9.795.638 ton; luas panen jagung 158.993 hektar dengan hasil produksi 426.430 ton; luas panen ubi kayu 128.642 hektar dengan produksi 1.650.881 ton; luas panen kedelai 57.385 hektar dengan produksi 70.976 ton; luas panen kacang hijau 19.011 hektar dengan hasil produksi 17.435 ton; luas panen ubi jalar 40.574 hektar dengan hasil produksi 443.745 ton; luas panen kacang tanah 92.715 hektar dengan hasil produksi 104.141 ton

Sedangkan hasil produksi sayur-sayuran (1998) adalah sebagai berikut: bawang daun 13.862 ton; bawang merah 10.563 ton; kentang 21.994 ton; kubis 18.227 ton; lobak 319 ton; sawi 13.676 ton; kacang panjang 26.096 ton; wortel 4.972 ton; buncis 8.719 ton; bayam 5.808 ton; cabe 19.165 ton; tomat 10.510 ton; terong 7.774 ton; kangkung 5.323 ton; bawang putih 309 ton; kacang merah 12.179 ton; dan ketimun 19.702.

Hasil buah-buahan di Jabar tahun 1998 adalah sebagai berikut: alpukat 50.475,5 ton; jeruk 44.607,5 ton; durian 38.943,3 ton; duku 11.865,8 ton; jambu biji 54.322,6 ton; mangga 80.231,4 ton; nanas 62.249,6 ton; pepaya 52.511,7 ton; pisang 1.015.330,9 ton; rambutan 38.699,4 ton; salak 64.885,4 ton; sawo 7.979,8 ton; salak 14.780,6 ton; belimbing 10.150,9 ton; nangka 65.800,2 ton; dan sukun 1.349,4 ton, dan buah lain 116,4 ton.

Tanaman pertanian hortikultura sayuran, buah – buahan dan bungan – bungaan yang banyak terdapat di Jawa Barat antara lain bawang merah, bawang putih, kentang, kubis, sawi, wortel, kangkung, jagung, kacang panjang, salak, alpukat, bunga- bungaan serta pembibitan bunga – bungaan dan buah- buahan.

Daerah Penghasil bunga – bungaan  di Jawa Barat anatar lain Kab. Cianjur, Garut, Kuningan, Bandung, Ciamis Purwakarta, Bogor dan Sukabumi.
Melihat hasil pertanian di atas, dapat dikatakan bahwa daerah Jawa Barat memiliki potensi yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan secara optimal. Hasil buah-buahan dan sayur-sayuran merata di seluruh daerah kabupaten yang ada di Jabar. Jika semua itu dapat dikembangkan melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian serta dikelola secara proresional dengan peralatan yang lebih modern, daerah Jawa Barat akan mendapat tambahan penghasilan yang besar dari sektor pertanian. Apalagi kalau hasil pertanian itu diekspor ke negera lain, hasilnya akan menambah devisa negara dalam jumlah cukup besar.

Dalam struktur perekonomian di Jawa Barat, sektor pertanian merupakan sektor dominan kedua terbesar setelah industri. Jika hasil pertanian pangan, termasuk hasil sayur-sayuran dan buah-buahan ini dapat dibudidayakan melalui teknologi canggih, daerah Jabar bisa seperti Thailand. Apalagi banyak SDM berkualitas dari perguruan tinggi seperti ITB, IPB, Padjajaran, dan Unpar. Semua itu akan mampu memacu pemba¬ngunan sektor pertanian, sebagai salah satu potensi andalan yang dimiliki oleh daerah Priyangan.

sumber: jabarprov